RSS

Jurnal IPS (Pengaruh Imitasi anak SD Pasirbadak terhdap Tontonan Film )


Di dalam keseharian kita seringlah kita tidak menyadari bahwa sering kali kita meniru segala sesuatu yang ada d sekitar kita. Pada siswa SD khususnya, mereka selalu meniru apa yang mereka lihat dan menurut mereka menarik untuk ditiru, sehingga banyak sekali anak-anak pada khususnya berperilaku yang tidak sesuai dengan usianya bahkan cenderung bersikap negatif apabila tidak dilakukan oleh pengawasan dari orang tua/guru dan keluarga terdekatnya. Pada era globalisasi saat ini, merupakan suatu perubahan zaman yang berkembang pesat, yang dimana teknologi yang berkembang yang semakin canggih satu diantaranya adalah televisi. Dengan berbagai tayangan yang disajikan dan dikemas secara menarik.
Televisi juga merupakan media elektronik visiual yang mampu menyebarkan berita secara cepat dan mencakup jumlah yang banyak tidak dapat dipungkiri bahwa banyak sekali manfaat dari penanganan acara televisi namun di sisi lain juga seimbang dengan dampak negatifnya. Televisi yang salah satu media elektronik yang hampir seluruh lapisan masyarakat dapat menikmatinya Media ini menyediakan informasi baik berita, pengetahuan, maupun hiburan yang dapat dinikmati oleh masyarakat secara bebas. apalagi anak-anak yang masih d bawah umur yang masih butuh pengawasan dari orang tuanya.
Hasil dari pemerolehan informasi tersebut dapat berupa pengetahuan, perilaku, dan pemikiran yang telah terkontaminasi. Dari proses saling mempengaruhi tersebut diinterpretasikan dalam bentuk bahasa dan tingkah laku seseorang. Fenomena ini sangat terlihat jelas pada perilaku berbahasa anak-anak.
Acara televisi untuk anak-anak begitu banyak jumlahnya dan ditayangkan hampir setiap waktu dari pagi hari bahkan sampai larut malam oleh berbagai stasiun televisi. Berbagai jenis film kartun televisi telah mempesona anak-anak dan menyedot sebagian besar waktu dan perhatiannya. Bahkan mereka memilih menonton televisi dibanding bermain dengan teman sebayanya. Tentu hal ini akan sangat menentukan perilaku anak, baik dalam pembentukan karakter maupun perilaku bahasanya.
Jenis tayangan media televisi khususnya acara televisi untuk anak-anak tersebut akan terekam dalam pikiran anak dan sekaligus dapat mempengaruhi perilaku anak dalam kesehariannya.
Dalam jurnal ini yang akan dibahas adalah mengenai Pengaruh imitasi siswa sd terhadap tayangan televisi. Permasalahan yang akan dibahas dalam isi jurnal ini yaitu:
1.     Bagaimana pengaruh imitasi siswa SD terhadap tayangan televisi ?
2.     Apa saja dampak yang ditimbulkan dari tayangan televisi terhadap perilaku siswa?
3.     Apa solusi yang dilakukan oleh pendidik mengenai dampak negatif yang ditimbulkan dari tayangan televisi khususnya film kartun ?
Jurnal ini terdiri dari 5
a)     BAB I adalah Pendahuluan, yang terdiri dari Latar Belakang, Rumusan Masalah, Sistematika Penelitian, dan Manfaat Penelitian
b)     BAB II Review Literature, dari beberapa sumber buku dan internet yang telah kami baca yang berisi pengertian atau definisi dari apa yang akan kami bahas dalam jurnal ini.
c)     BAB III Metodologi Penelitian terdiri dari waktu dan lokasi penelitian, populasi dan sampel, teknik pengumpulan data, teknik analisa data dan questioner.
d)     BAB IV Pembahasan tentang rumusan masalah yang telah kami ajukan dalam bab sebelumnya dalam jurnal ini
e)     BAB V Penutup yang berisikan Kesimpulan dan Saran. Sebagai pertanggung jawaban disertakan pula Daftar Pustaka
1.   Bagi Peneliti
Dapat menambah wawasan dan pengalaman peneliti tentang pembuatan jurnal terhadap pengaruh imitasi siswa SD terhadap tayangan televisi
2.              Institusi Pendidikan
Hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai dasar untuk lebih mengerti tentang pengaruh imitasi siswa SD terhadap tayangan televisi sehingga guru pengajar di sekolah tersebut dapat membantu dan membimbing siswa agar tidak berdampak negatif atas pengaruh imitasi siswanya terhadap tayangan yang disiarkan statiun televisi.
3.              Bagi Responden
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan gambaran tentang persepsi pengaruh imitasi siswa SD terhadap tayangan televisi. Hasil penelitian ini juga dapat dijadikan bahan bacaan bagi yang memerlukan dan sebagai bahan pertimbangan untuk penelitian yang akan datang.






 
 
 
 
 
 
 
 
 
REVIEW LITERATURE
Kata imitasi memiliki arti secara hafiah yakni “TIRUAN”, di samping merupakan suatu konsep. Imitasi dapat terjadi apabila seseorang melakukan tindakan peniruan secara sadar atau tidak terhadap perilaku orang lain.Misalnya seorang anak yang berperilaku seperti orang tuanya. Proses imitasi dapat bersifat positif dan dapat menimbulkan hal-hal yang bersifat negatif. Bersifat positif jika tidak bertentangan dengan kaidah dan dapat mendorong seseorang untuk mematuhi serta mempertahankan kaidah tersebut, sedangkan bersifat negatif jika yang ditiru merupakan tindakan-tindakan yang menyimpang. [1]
Imitasi atau meniru adalah suatu proses kognisi untuk melakukan tindakan maupun aksi seperti yang dilakukan oleh model dengan melibatkan indera sebagai penerima rangsang dan pemasangan kemampuan persepsi untuk mengolah informasi dari rangsang dengan kemampuan aksi untuk melakukan gerakan motorik. Proses ini melibatkan kemampuan kognisi tahap tinggi karena tidak hanya melibatkan bahasa namun juga pemahaman terhadap pemikiran orang lain.[2]
Imitasi yaitu proses sosial atau tindakan seseorang untuk meniru orang lain, baik sikap penampilan, gaya hidupnya, bahkan apa-apa yang dimilikinya. Imitasi pertama kali muncul di lungkungan keluarga, kemudian lingkungan tetangga dan lingkungan masyarakat.[3]
Identifikasi yaitu merupakan kecenderungan atau keinginan-keinginan dalam diri seseorang untuk menjadi identik dengan orang lain, yang menjadi idolanya. Identifikasi secara sederhana dapat diartikan sebagai proses menyamakan diri terhadap orang lain, yang dapat dilakukan melalui imitasi atau sugesti misalnya, seorang remaja yang memiliki idola, seorang penyanyi maka ia akan berusaha menyamakan dirinya dengan idolanya tersebut misalnya dengan meniru model rambut atau pakaiannya tanpa berpikir secara rasional. [4]
Indentifikasi adalah upaya yang dilakukan oleh seorang individu untuk menjadi sama (identik) dengan individu lain yang ditirunya. Proses identifikasi tidak hanya terjadi melalui serangkain proses peniruan pola perilaku saja, tetapi juga melalui proses kejiwaaan yang sangat mendalam.[5]
Sugesti merupakan suatu proses penanaman gagasan, pandangan atau perasaan ke dalam pikiran seseorang dan diterimanya tanpa melalui pemikiran yang kritis. Sugesti cepat terjadi pada orang yang mengalami stress, mengalami tekanan atau kemampuan berpikirnya lemah sehingga mudah menerima pandangan yang berasal dari orang lain. Sedangkan pelaku sugesti akan cepat berhasil jika ia berada pada posisi yang menentukan, memiliki kekuatan dan kekuasaan. Misalnya, orangtua otoriter yang menerapkan berbagai perintah dan larangan kepada anaknya sehingga diterimanya secara dogmatis. [6]
Sugesti merupakan kata pungut dalam Bahasa Indonesia dari Bahasa Inggris suggestion. Sugesti adalah proses psikologis dimana seseorang membimbing pikiran, perasaan, atau perilaku orang lain. Penulis topik psikologi pada abad kesembilanbelas seperti William James menggunakan kata-kata suggest dan suggestion dalam pengertian mendekati maknanya dalam percakapan sehari-hari,-kata saran (suggest) mengacu arti harfiah "memberi saran" kepada orang lain sementara sugesti (suggestion) mengacu kepada pikiran. Kajian ilmiah awal tentang hipnosis oleh Leonard Clark Hull dan ilmuwan lain memperluas arti kata sugesti ini secara khusus dan teknis (Hull, 1933). Teori neuro-psikologis asli dari sugesti hipnosis didasarkan pada konsep respon ideo motor dari William B. Carpenter dan James Braid .[7]
Suatu proses dimana seseorang merasa tertarik kepada pihak lain, yang lebih didorong oleh perasaannya dan bersifat subjektif dinamakan simpati. Misalnya, seseorang memilih melihat orang lain dan langsung tertarik padahal sebelumnya tidak pernah bertemu.[8]
Simpati adalah suatu proses seseorang merasa tertarik terhadap pihak lain, sehingga mampu merasakan apa yang dialami, dilakukan dan diderita orang lain. Dalam simpati, perasaan memegang peranan penting. Simpati akan berlangsung apabila terdapat pengertian pada kedua belah pihak. Simpati lebih banyak terlihat dalam hubungan persahabatan, hubungan bertetangga, atau hubungan pekerjaan. Seseorang merasa simpati dari pada orang lain karena sikap, penampilan, wibawa, atau perbuatannya. Misalnya, mengucapkan selamat ulang tahun pada hari ulang tahun merupakan wujud rasa simpati seseorang.[9]
Perilaku erat kaitannya dengan kepribadian, yang terbentuk melalui sosialisasi semenjak masa kanak-kanak sampai usai tua sehingga menjadi ajang pembinaan kepribadian (personality building) bagi seseorang. Sosialisasi dan kepribadian akan membentuk sistem perilaku (behavior system), dimana perilaku tersebut harus menyesuaikan dengan kaidah yang berlaku (conformity), tetapi seiring terjadi perilaku yang menyimpang (deviation) yang dapat memicu terjadinya perubahan sosial.[10]
Perilaku sosial adalah suasana saling ketergantungan yang merupakan  keharusan untuk menjamin keberadaan manusia  (Rusli Ibrahim, 2001). Sebagai bukti bahwa manusia dalam memnuhi kebutuhan hidup sebagai diri pribadi tidak dapat melakukannya sendiri melainkan memerlukan bantuan dari orang lain.Ada ikatan  saling ketergantungan diantara satu orang  dengan yang lainnya.   Artinya bahwa kelangsungan  hidup manusia berlangsung dalam  suasana saling mendukung  dalam kebersamaan. Untuk itu manusia dituntut  mampu bekerja sama, saling menghormati, tidak menggangu hak orang lain, toleran dalam hidup bermasyarakat.[11]
Tindakan sosial adalah tindakan individu yang diarahkan pada orang lain dan memiliki arti, baik bagi diri si pelaku maupun bagi orang lain. Dalam tindakan sosial mengandung tiga konsep, yaitu tindakan, tujuan dan pemahaman. Ciri-ciri dari tindakan sosial adalah : tindakan memiliki makna subjektif, tindakan nyata yang bersifat membatin dan bersifat subjektif, tindakan berpengaruh positif, tindakan diarahkan pada orang lain dan tindakan merupakan respons terhadap tindakan orang lain. Berdasarkan tingkat pemahamannya, te3rdapat rasionalitas instrument. Rasionalitas berorientasi pada nilai dan tindakan afektif serta tindakan tradisional.[12]
2.5.1 Pengertian Interaksi sosial
Interaksi sosial merupakan prasyarat terbentuknya masyarakat karena melalui interaksi tersebut akan terjalin hubungan antarindividu dan individu dengan kelompok serta hubungan antar kelompok, yang ditandai dengan adanya hubungan timbale balik antara pihak yang berinteraksi. Terjadinya interaksi sosial di perlukan interaksi sosial dan komunikasi. Iimitasi, sugesti, identifikasi dan simpati merupakan factor yang dapat melangsungkan interksi sosial.Dalam kehidupan sehari-hari ditemui dua bentuk interaksi sosial, yaitu yang bersifat asosiatif dan disosiatif. Bentuk interaksi sosial yang bersifat asosiatif adalah kerjasama (cooperative) dan akomodasi (accommodation) sedangkan yang termasuk kedalam bentuk disosiatif yaitu persaningan (competition), kontrafensi (controfetion) dan pertentangan (conflict).[13]
interaksi sebagai suatu kejadian ketika suatu aktivitas yang dilakukan oleh seseorang terhadap individu lain diberi ganjaran atau hukuman dengan menggunakan suatu tindakan oleh individu lain yang menjadi pasangannya.
Konsep yang dikemukakan oleh Homans ini mengandung pengertian bahwa interaksi adalah suatu tindakan yang dilakukan oleh seseorang dalam interaksi merupakan suatu stimulus bagi tindakan individu lain yang menjadi pasangannya. Homans ( dalam Ali, 2004: 87) mendefinisikan
Sosialisasi adalah proses yang dijalani anak dalam belajar norma sosial konvensional di sekitar mereka. [14]
Menurut Maccoby dan jacklin teori Sosialisasi terdiri dari sebagai berikut:
1.     Teori Imitasi, mengenal indentifikasi awal seorang anak terhadap anggota keluarga yang jenis kelaminnya sama dengannya, dengan menirukan tingkah laku tertentu orang dewasa. Anak akan mengidentifikasikan dirinya dengan orangtuanya yang berjenis kelamin sama dengannya.
2.     Self-socialization, dalam teori ini anak akan berusaha mengembangkan konsep tentang dirinya. Dan juga mengembangkan konsep suatu pengertian tentang apa yang harus dilakukan bagi jenis kelamin yang bersangkutan.
3.     Teori Reinforcement, menekankan penggunaan saksi berupa hukuman atau penghargaan. Hal ini akan mendorong anak bertingkah laku sesuai dengan jenis kelaminnya. Sanksi yang diberikan oleh keluarga ataupun orang dewasa lainnya.
Pengertian psikologi sosial adalah studi ilmiah terhadap bagaimana orang berpikir, mempegaruhi dan berhubungan dengan orang lain. Psikolog sosial sering menekankan pada kekuatan situasi sosial langsung dalam memengaruhi perilaku.
Teoritis utama dalam psikologi sosial adalah, teori motivasi, teori belajar, teori kognitif, teori pengambilan keputusan dan teori independensi. [15]
Piaget dalam penelitiannya mengenai perkembangan anak mengemukakan bahwa perkembangan anak dibagi menjadi tiga yaitu : perkembangan kognitif, psikomotorik dan affektif (Gunarsa, 1997: 136).[17]
`Perkembangan Anak adalah bertambahnya kemampuan (skill)dalamstruktur dan                               fungsi tubuh yang lebih kompleks dalam pola yang teratur dandapat diramalkan, sebagai hasil dari pematangan.Di sini menyangkut adanya proses diferensiasi dari sel-sel tubuh, jaringantubuh, organ-organ dan sistem yang berkembang sedemikian rupa per-kembangan emosi, intelektual dan tingkah laku sebagai hasil interaksidengan lingkungannya.[18]
Kognisi adalah pengertian yang luas mengenai berpikir dan mengamati, jadi tingkah laku-tingkah laku yang mengakibatkan orang memperoleh pengetahuan atau yang dibutuhkan untuk menggunakan pengetahuan.
Secara historis, afeksi tersebut dibedakan dari kognisi (cognition, pengenalan) dan volisi atau kemauan (volition) dan (titchener) kesenangan dan ketidaksenangan. Definisi lain dari affektif adalah kemampuan mengolah kepekaan rasa dan emosi berdasarkan suatu kebenaran yang relatif. Dari ketiga perkembangan anak yang dikemukakan oleh Piaget, perkembangan affektiflah yang dapat secara langsung berpengaruh pada anak.
Sesuai dengan teori kognitif Piaget, maka perkembangan kognitif pada masa awal anak-anak dinamakan tahap praoperasional (praoperational stage), yang berlangsung dari usia 2-7 tahun. Pada tahap ini, konsep yang stabil dibentuk, penalaran mental muncul, egosentrisme mulai kuat dan kemudian melemah, serta terbentuknya keyakinan terhadap hal yang magis. Tetapi, sebagai “pra” dalam istilah “praoperasional”, menunjukkan bahwa pada tahap ini teori Piaget difokuskan pada keterbatasan pemikiran anak. Istilah “operasional” menunjukkan pada aktivitas mental yang memungkinkan anak untuk memikirkan peristiwa-peristiwa atau pengalaman-pengalaman yang dialaminya.
Pemikiran praoperasional tidak lain adalah suatu masa tunggu yang singkat bagi pemikiran operasional, sekalipun label “praoperasional” menekankan bahwa anak pada tahap ini belum berpikir secara operasional.[19]
Sedangkan definisi intelegensi adalah suatu kecakapan global atau rangkuman kecakapan seseorang untuk dapat bertindak secara terarah, berfikir secara baik dan bergaul dengan lingkungannya secara efisien menurut Wechsler (dalam Gunarso, 1997).
Psikomotorik adalah ketrampilan untuk menggunakan organ-organ tubuh, suatu kegiatan organ-organ tubuh seperti otot, syaraf dan kelenjar. Sedang affektif (afek, afeksi), kasih sayang, cinta adalah perasaan yang sangat kuat, satu kelas yang luas dari proses-proses mental, termasuk perasaan emosi, suasana, hati dan temperamen.[20]
Menurut Otto Soemarwonto (1989;4) Dampak adalah suatu perubahan yang terjadi sebagai akibat suatu aktifitas dan aktifitas itu dapat dilakukan oleh manusia yang mengarah kepada perubahan dalam kehidupan manusia itu sendiri.
Dampak dapat berwujud dalam bentuk positif, yaitu berguina bagi yang menerima dampak tersebut, dan bisa berdampak negatif bila hal itu mengurangi atau merendahkan martabat dari yang menerima dari dampak tersebut. [22]
Dampak secara sederhana bisa diartikan sebagai pengaruh atau akibat. Dalam setiap keputusan yang diambil oleh seorang atasan biasanya mempunyai dampak tersendiri, baik itu dampak positif maupun dampak negatif. Dampak juga bisa merupakan proses lanjutan dari sebuah pelaksanaan pengawasan internal. Seorang pemimpin yang handal sudah selayaknya bisa memprediksi jenis dampak yang akan terjadi atas sebuah keputusan yang akan diambil.[23]
Menurut Ciu cahyono, adegan adalah kejadian dalam kerangka fiksi yang didalamnya terdapat laku atau tutur dari tokoh-tokoh cerita, yang terbingkai dalam suatu setting waktu dan setting tempat.
Adegan dapat diartikan sebagai bagian babak dalam lakon sandiwara, film atau sinetron. Adegan kekerasan dalam yang ditayangkan dalam film atau sinetron dapat mempengaruhi kejiwaan seseorang.[24]
Adegan adalah tindakan berkesinambungan dari seseorang atau beberapa orang yang ditampilkan pada suatu latar (tempat dan waktu). Untuk membangun adegan yang baik, anda harus mampu menggambarkan latar, menampilkan para tokoh, dan menyajikan perbuatan mereka dengan jelas.[25]
Berdasarkan Rumusan Masalah pada Bab I dan Bab II Review Literature, ada kecenderungan anak lebih mudah meniru dari apa yang sering mereka lihat, tidak terkecuali tayangan televisi. Dan anak akan menjadi apa yang seperti dia inginkan setelah dia melihat tayangan yang ada di televisi dan menirunya. Pada dasarnya anak sadar bahwa menonton televisi tidak ada manfaatnya akan tetapi anak tetap kecanduan menonton tayangan televisi dan anak selalu ingin menonton televisi.
Menurut pengamatan kami pada anak-anak di lingkungan keluarga mereka selalu meniru film kartun yang mereka tonton dan mengimplementasikannya dalam kehidupan sehari-hari di kejadian yang nyata, seperti perilaku anak-anak yang suka berkelahi menggunakan jurus yang ada di film-film kartun yang dia lihat padahal berkelahi seperti itu dapat membahayakan dia dan orang-orang disekitar mereka tanpa mereka sadari hal itu.
METODOLOGI
1.   Waktu Penelitian
Penelitian ini direncanakan selama kurung lebih satu bulan yaitu dimulai pada bulan Januari sampai bulan Februari, tahun 2013.
2.   Lokasi penelitian
Lokasi penelitian ini mengambil lokasi di SDN PASIRBADAK, Kp.Pasirbadak Ds.Kebonmanggu Kec.Gunungguruh Kabupaten Sukabumi 43156. Dengan alasan, karena anak siswa Sekolah Dasar lebih cenderung menirukan apa saja yang ada di tayangan televisi apalagi tokoh kartun dan adegan yang ada di film kartun tersebut.
Populasi dan sampel
a.      Populasi
Populasi dalam penelitian ini yaitu siswa SDN PASIRBADAK Kp.Pasirbadak Ds.Kebonmanggu Kec.Gunungguruh Kabupaten Sukabumi 43156.
Tabel 1. Populasi Siswa SDN PASIRBADAK
No
Kelas
Laki-Laki
Perempuan
Jumlah
1
I
20
21
41
2
II
6
20
40
3
III
23
19
42
4
IV
18
17
35
5
V
15
12
27
6
VI
17
15
32
Total Keseluruhan
96
107
203
Sumber : Ibu Wiwi Juwita L S.Pd.SD (Guru Kelas SDN Pasirbadak)
b. Sampel
Sampel adalah sebagian dari populasi yang akan diteliti dan dianggap dapat mewakili seluruh populasi (Notoadmojo, 2005). Sampel yang akan diambil adalah siswa/siswi di SDN PASIRBADAK  tahun 2013 yang hadir selama waktu penelitian dan memenuhi kriteria inklusi..
a)   Jumlah Sampel
Menentukan jumlah sampel suatu penelitian tergantung pada dua hal yaitu pertama adanya sumber-sumber yang dapat digunakan untuk menentukan batas maksimal dan dari besarnya sampel. Kedua kebutuhan dari rencana analisis yang menentukkan batas minimal dari besarnya sampel ( Notoatmodjo, 2005).
Rumus pengambilan sampel :
n =
: Presisi 10 %
n =  66.9 dibulatkan menjadi 67 orang
Berdasarkan perhitungan di atas dari jumlah populasi sebanyak 203 orang dengan  nilai presisi mutlak dan  tingkat kepercayaan  90 %   didapatkan jumlah sampel sebanyak 67 orang.  Untuk mencegah kesalahan data, maka peneliti menambahkan 10% dari jumlah sampel minimal sehingga total sampel yang peneliti ambil  berjumlah :
10%*67= 6,7
n = 67 + 6,7 = 73,7 = 74 orang
b)                           Kriteria
1)  Kriteria inklusi
a)     Siswa/siswi di SDN PASIRBADAK SUKABUMI  tahun 2013 yang hadir di sekolah
b)     Siswa/siswi yang bersedia untuk menjadi responden
2)  Kriteria ekslusi
Siswa/siswi yang tidak masuk sekolah pada saat pengumpulan data.
Dalam hal ini, kami membagikan daftar pertanyaan kepada responden yang dianggap dapat mewakili untuk memberikan informasi yang baik dan akurat. Pengumpulan data dilakukan dengan cara membagikan kuesioner kepada 74 responden yang telah dipersiapkan oleh peneliti, kemudian kuesioner dikumpulkan oleh peneliti setelah selesai diisi oleh responden.
1.   Instrument / alat penelitian
Instrument yang digunakan dalam pelaksanaan penelitian adalah :
a.   Quesioner
Teknik angket adalah salah satu cara untuk mengumpulkan data atau informasi dengan menggunakan serangkaian pertanyaan yang diajukan kepada responden secara tertulis. Quesioner dibuat dengan menggunakan skala Linkert untuk pernyataan positif dengan nilai Iya = 3, Kadang-Kadang = 2, Tidak = 1. Sedangkan untuk pernyataan bersifat negatif dengan nilai Iya = 1, Kadang-Kadang= 2, dan Tidak = 3.
b.   Alat tulis
Alat tulis yang digunakan adalah pensil atau pulpen untuk mencatat hasil pengumpulan data.
c.   Komputer
Komputer digunakan untuk mengolah data setelah data dari responden terkumpul.
Teknik analisa data yang digunakan dalam penelitian ini dianalisis secara kuantitatif dengan menggunakan tabel frekuensi, kemudian diuraikan dalam bentuk penjelasan.






QUESIONER
Pengaruh Imitasi Siswa SD Terhadap Tayangan Televisi
 
Dalam rangka memenuhi mata perkuliahan Pendidikan IPS di SD 1 dalam tugas pembuatan Jurnal , kami selaku mahasiswa Universitas Muhammadiyah Sukabumi (UMMI) Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar memohon kesediaan Anda untuk mengisi beberapa pertanyaan di bawah ini.
Petunjuk Pengisian :
1.     Jawablah pertanyaan dibawah ini dengan cara menceklis (√) pilihan :
Iya (Y)
Kadang-kadang (K)
Tidak (T)
2.     Jika dalam pengisian Anda mengalami hambatan atau kurang mengerti Anda dapat bertanya pada peneliti.
3.     Jawablah pertanyaan-pertanyaan yang diberikan sesuai dengan apa yang Anda rasakan, tanpa rekayasa dan benar adanya karena besar manfaat yang akan Anda ketahui dari hasil jawaban Anda.
 
No. Responden           :
Nama                          :
Umur                           :
Kelas                           :
Jenis Kelamin             :

No.
Pertanyaan
Y
K
T
1.
Aku selalu menonton TV setiap hari



2.
Film kartun adalah film favorit aku



3.
Aku ingin seperti tokoh dalam kartun yang aku sukai



4.
Aku selalu meniru apa yang saya tonton di TV



5.
Orangtua aku selalu melarang menonton TV



6.
Tontonan TV mengganggu belajar aku



7.
Aku selalu ditemani orang tuaku saat menonton TV



8.
Aku lebih suka membaca daripada menonton TV



9.
Apakah nonton TV ada manfaatnya untuk kamu ?



10.
Aku lebih suka mengerjakan PR daripada menonton TV



Berilah tanda ceklis (√) pada kolom yang sesuai pilihan kamu !
Keterangan :
Y : Ya
K : Kadang-kadang
T : Tidak
 
 
 
BAB IV
PEMBAHASAN
Mengingat daya khayal dan daya serap anak-anak relatif dalam mengadaptasi adegan-adegan yang disajikan dalam berbagai tayangan televisi, maka adegan-adegan itu akan tertinggal dan membekas dalam diri anak yang selanjutnya akan mempengaruhi perilakunya.
Sesuai perkembangannya, mulai umur 7-8 tahun anak mulai kritis terhadap lingkungannya dan membutuhkan penjelasan konkret serta masuk akal.
Maraknya acara televisi untuk anak terutama yang dikemas dalam bentuk film kartun cukup menarik perhatian anak namun sekaligus keprihatinan orang tua. Seiring dengan banyaknya film-film kartun yang ditayangkan utamanya dari Jepang dan Amerika sehingga dapat mempengaruhi perkembangan anak yang pada hakikatnya mereka meniru apa yang dia lihat tanpa memikirkan mana yang baik dan mana yang buruk seperti hasil data questioner yang telah kami teliti seperti dibawah ini :
Tabel 2
Aku Selalu Menonton TV Setiap Hari
Jawaban Responden
Frekuensi
Persen
Laki-laki
Perempuan
Laki- laki
Perempuan
Ya
24
20
70,5%
50%
Kadang-kadang
10
19
29,5%
47,5%
Tidak
-
1
-
2,5%
Total
34
40
100%
100%
Sumber : Pengolah dan Data Quesioner
Dengan demikian dari data tabel 2 dapat dipastikan seluruh responden yang diteliti menghabiskan waktu menonton siaran televisi setiap harinya sehingga dengan berbagai tayangan televisi yang bermacam-macam. Dari data tersebut dapat disimpulkan bahwa anak-anak telah banyak menonton tayangan televisi dengan adegan yang bermacam-macam sehingga anak-anak meniru adegan apa yang telah dia lihat/tonton.
Tabel 3
Film Kartun adalah Film favorit aku
Jawaban Responden
Frekuensi
Persen
Laki-laki
Perempuan
Laki- laki
Perempuan
Ya
30
36
88,25%
90%
Kadang-kadang
2
-
5,88%
-
Tidak
2
4
-
10%
Total
34
40
100%
100%
Sumber : Pengolah dan Data Quesioner
Dari data tabel 3 diatas diperoleh data bahwa lebih dari 80% anak-anak yang menjadi sampel penelitian film favorit mereka adalah kartun dengan berbagai jenis film kartun yang terkadang film kartun tersebut menceritakan suatu hal yang tidak sesuai dengan usia anak-anak. Terkadang banyak juga adegan kekerasan seperti berkelahi yang dapat memicu anak untuk berkelahi dalam kehidupan sehari-hari mereka, sehingga dapat membahayakan anak itu sendiri dan orang lain disekitarnya.


Tabel 4
Aku ingin seperti tokoh dalam kartun yang aku sukai
Jawaban Responden
Frekuensi
Persen
Laki-laki
Perempuan
Laki- laki
Perempuan
Ya
28
33
82,35%
82,5%
Kadang-kadang
1
4
2,95%
10%
Tidak
5
3
14,7%
7,5%
Total
34
40
100%
100%
Sumber : Pengolah dan Data Quesioner
Dari data tabel 4 dapat disimpulkan dari data yang telah kami peroleh bahwa lebih dari 80% anak yang menjadi sampel penelitian kami ingin seperti tokoh yang mereka sukai. Hal seperti ini menjadi perhatian lebih bagi kami sebagai peneliti karena meniru tokoh yang ada di dalam kartun mengandung hal positif dan hal negatifnya.
Tabel 5
Aku selalu meniru apa yang saya tonton di TV
Jawaban Responden
Frekuensi
Persen
Laki-laki
Perempuan
Laki- laki
Perempuan
Ya
15
18
44,11%
45%
Kadang-kadang
9
10
26,47%
25%
Tidak
10
12
29,42%
30%
Total
34
40
100%
100%
Sumber : Pengolah dan Data Quesioner
Dengan data yang tabel 5 diatas dapat disimpulkan lebih dari 40% bahwa anak-anak selalu meniru apa saja yang mereka tonton/lihat ditelevisi. Sebagian besar dari mereka meniru adegan yang menurut mereka menarik dan menyenangkan untuk ditiru, padahal sebaiknya mereka memilih terlebih dahulu hal yang positifnya baru mereka menirunya tapi disini mereka meniru semua apa yang mereka lihat tanpa memikirkan dampak negatif yang dihasilkan dari meniru tersebut.
Dampak yang diakibatkan akibat imitasi siswa SD terhadap tayangan televisi diantaranya ketika anak meniru perilaku kekerasan seperti berkelahi yang dapat membahayakan dirinya sendiri dan orang lain yang berada di sekitarnya.
Dampak Televisi Terhadap Anak-anak
Televisi mempunyai dampak-dampak sendiri  terhadap anak-anak.  Disadari ataupun tidak sebagian besar prilaku anak-anak zaman sekarang banyak dipengaruhi oleh media elektronik, terutama televisi. Berikut adalah dampak nyata yang bisa kita lihat sehari-hari.
1.     Sikap
·          Ingin mendapatkan atau muatan mencapai sesuatu selekas mungkin (instanly). Di layar televisi, gambar berlangsung cepat. Gaya televisi memang mengharuskan kecepatan itu. Segalanya serba seketika. Hitungan yang berlaku dalam penayangan televisi adalah detik.
·          Kurang menghargai Proses. Sebagai lanjutan dari ingin cepat mencapai sesuatu, anak-anak menjadi kurang menghargai bahkan di sana sini ingin mengabaikan, kalau bisa segala sesuatu ada jalannya. Ada awal dan ada proses, timbul kecenderungan ingin mendapatkan sesuatu lewat jalan pintas.
·          Kurang dapat membedakan khayalan dengan kenyataan.
2.     Perilaku
·          Peniruan perbuatan kekerasan dan negatif lainnya.
3.     Pendidikan
·          Menyita waktu, mengurangi  minat dan perhatian untuk belajar.
·          Menyaingi minat untuk membaca.
4.     Nilai dan Agama
·          Mengaburkan nilai-nilai agama dan sosial dalam hal etika, kesopanan dan susila.
·          Mengorbankan semangat keduniaan
5.     Budaya
·          Mendorong kekaguman yang berlebih kepada kebuadayaan barat dan mengurangi perhatian terhadap identitas Nasional.
Tabel 6
Apakah nonton TV ada manfaatnya untuk kamu?
Jawaban Responden
Frekuensi
Persen
Laki-laki
Perempuan
Laki- laki
Perempuan
Ya
11
13
32,35%
32.5%
Kadang-kadang
4
4
11,75%
10%
Tidak
19
23
55,9%
57,5%
Total
34
40
100%
100%
Sumber : Pengolah dan Data Quesioner
Dari data tabel 6 yang diperoleh dari questioner kepada siswa SD kelas I - VI di SDN PASIRBADAK dapat kita memperoleh bahwa hampir 33% anak laki-laki menjawab ada manfaatnya dan hampir sama anak perempuan juga menjawab ada manfaatnya, tetapi lebih banyak siswa yang menjawab bahwa menonton televisi itu tidak ada manfaatnya. Maka dapat kita simpulkan bahwa mereka menyadari  menonton televisi itu tidak ada manfaatnya apabila tayangan yang kita tonton itu memberikan manfaat yang baik tetapi tayangan televisi itu juga dapat menimbulkan dampak yang negatif apabila tanyangan tersebut tidak mendidik bahkan menjerumuskan kedalam hal-hal yang tidak baik. Pengaruh positif dan negatifnya kita uraikan seperti dibawah ini :
Pengaruh Positif Televisi
Meskipun sebagian besar masyarakat berpendapat bahwa televisi mempunyai pengaruh yang negatif tetapi banyak juga dampak positifnya apabila kita manfaatkan dengan baik, contohnya kita dapat mengambil pelajaran dari film-film yang mempunyai pesan-pesan
Dampak positif dari televisi
Media televisi dituding oleh banyak pihak sebagai biyang keladi dari banyak kerusakan moral yang terjadi di tanah air kita ini. Namun disamping semua dampak negatif tersebut, kita masih bisa menemukan dampak positif dari televisi, di antaranya adalah:
1.     Memperluas wawasan dan cakrawala pengetahuan
2.     Menyebarkan informasi dari satu daerah ke daerah lain secara cepat.
3.     Media hiburan dan rekreasi pikiran
4.     Mempercepat proses kemajuan tekhnologi diNegara kita
Pengaruh Negatif televisi
Selain ada dampak positif televisi juga memiliki dampak negatif apalagi dampak negatif terhadap anak-anak yang terganggu saat belajar karena tayangan film di televisi yang lebih menarik dan menyenangkan dibandingkan belajar atau mengerjakan PR untuk anak-anak, seperti hasil pengamatan kami di bawah ini :
Tabel 7
Tontonan TV mengganggu belajar aku
Jawaban Responden
Frekuensi
Persen
Laki-laki
Perempuan
Laki- laki
Perempuan
Ya
28
35
82,35%
87,5%
Kadang-kadang
4
3
11,75%
7,5%
Tidak
2
2
5,9%
5%
Total
34
40
100%
100%
Sumber : Pengolah dan Data Quesioner
Dari data tabel 7 pengamatan yang telah kami peroleh dari questioner pada sampel anak SD 82,35% siswa SD terganggu dengan tontonan televisi dan 87,5% siswi juga terganggu dengan tontonan televisi. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa sebagian besar dari siswa-siswi SD yang masih berkewajiban untuk sekolah dan belajar terganggu dengan tontonan televisi apalagi film kartun yang mereka favoritkan.
Dampak Negatif Televisi memang banya disorot oleh berbagai pihak. Berikut di antara dampak negatif televisi menurut Strubhaar dan LaRose:
1.     Kekerasan
2.     Anak-anak memiliki kesulitan membedakan anatara dunia nyata dan dunia Televisi
3.     Prasangka
4.     Seksisme, Rasisme dan bentuk-bentuk lainnya
5.     Prilaku seksual
6.     Penyalahguanaan Obat-obatan
7.     Keterbukaan iklan berhubungan dengan konsumsi mereka akan produk.[26]
Nasution mengemukakan dampak televisi terhadap anak-anak:
1.     Sikap
·     Ingin mendapatka atau mencapai sesuatu selekas mungkin (instanly). Di layar televisi gambar berlangsung cepat. Gaya televisi memang mengharuskan kecepatan itu. Segalanya serta seketika. Itungan yang berlaku dalam penayangan televisi  adalah detik.
·     Kurang menghargai proses. Sebagai lanjutan dari ingin cepat mencapai sesuatu, anak-anak menjadi kurang menghargai, bahkan disana sini ingin mengabaikan- kalau bisa segala sesuatu ada jalannya. Ada awal terhadap proses, timbul kecenderungan ingin mendapatkan sesuatu lewat jalan pintas.
·     Kurang dapat membedakan khayalan dan kenyataan.
2.     Perilaku
·     Peniruan perbuatan kekerasan dan negatif lainnya.
3.     Pendidikan
·     Menyita waktu, mengurangi minat dan perhatian untuk belajar.
·     Menyaingi minat untuk membaca
4.     Nilai dan Agama
·     Mengaburkan Nilai-nilai agama dan social dalam hal Etika kesopanan dan susila.
·     Mengorbankan semgat keduniaan
5.     Budaya
·     Mendorong kekaguman yang berlebih kepada kebudayaan barat dan mengurangi perhatian pada identitas Nasional[27]
Hurlock menyebutkan sedikitnya ada 7 hal bagaimana film mempengaruhi anak yaitu,
1.     Film menyenangkan anak karena membawa mereka ke dunia manusia dan hewan yang melakukan hal-hal yang mereka lakukan.
2.     Anak memperoleh kegembiraan yang tidak dapat diperolehnya dalam kehidupan sehari-hari.
3.     Anak memperoleh gagasan yang dapat di pergunakan untuk bermain.
4.     Film menyediakan informasi tentang bagaimana bersikap dalam situasi sosial dan anak menggunakan ini untuk meningkatkan penerimaan sosialnya.
5.     Informasi yang di dapat dari film mudah di ingat daripada yang  mereka peroleh dari membaca buku cerita.
6.     Film menyediakan informasi tentang berbagai jenis orang yang tidak mempunyai hubungan pribadi yang dekat dengan mereka.
7.     Gambar yang bergerak menimbulkan pengaruh emosional yang nyata pada anak. [28]
Milthon Chen, Seorang pendidik terkemuka dari Public Broadcasting Service (PBS dan Direktur Center for Education and Life Long Learning Dikoed San Fransisco, telah menemukan sedikitnya 5 mitos tentang televisi dan anak-anak yaitu, :
1.     Televisi adalah medium pasif.
2.     Televisi menghambat pertumbuhan otak yang sehat. Televisi mengganggu gelombang otak anak-anak .
3.     Televisi memperpendek rentang perhatian anak-anak.
4.     Jika menonton televisi, ia akan menjadi murid yang bodoh.
5.     Jika menonton televisi ia akan ia tidak akan menjadi pembaca yang baik.[29]
Penelitian yang dilakukan oleh sejumlah ahli psikologi sosial pada tahun 1970- an menyimpulkan bahwa menyaksikan tayangan kekerasan yang lama dapat menyebabkan dampak sebagai berikut :
1.     Kekerasan mengajarkan perilaku agresif.
2.     Menurunkan kemampuan mengekang perilaku agresif, berkurangnya kepekaan dan menganggap kekerasan hal biasa.
3.     Tayangan televisi membentuk kesan tentang realitas.[30]
Pengaruh dunia pertelevisian bagi sikap dan prilaku anak di antara berbagai media massa, televisi memainkan peran yang terbesar dalam menyajikan informasi yang tidak layak dan terlalu dini bagi anak-anak. Menurut para pakar masalah media dan fsikologi, di balik keunggulan yang dimilikinya, televisi berpotensi besar dalam meninggalkan dampak negatif di tengah berbagai lapisan masyarakat, khususnya anak-anak. Memang terdapat usaha untuk menggerakan para orang tua dan pendidik agar mengarahkan anak-anaknya untuk menonton program atau acara yang di khususkan untuk mereka saja, namun pada prakteknya sedikit sekali orang tua yang memperhatikan ini.
Setiap pendidik mempunyai kewajiban untuk selalu mengawasi anak-anak nya dan perkembangannya, oleh sebab itu hal-hal kecil harus bisa di antisipasi oleh setiap pendidik mengenai dampak positif atau negatif yang akan ditimbulkan oleh hal yang bersangkutan. Begitu juga mengenai hal televisi ini yang sudah nampak dampak negatifnya ,  sudah sepatutnya setiap pendidik mempersiapkan senjata untuk mengantisipasinya.
Dari begitu banyak dampak yang di akibatkan oleh tontonan televisi, ada beberapa hal yang bisa kita lakukan oleh setiap pendidik, yaitu:
1.     Pilihlah acara yang sesui dengan usia anak
Jangan biarkan anak-anak menonton acara yang tidak sesuai dengan usianya, walaupun ada acara yang memang untuk anak-anak, perhatikan dan analisa apakah sesuai dengan anak-anak ( tidak ada unsur kekerasan, atau hal lainnya yang tidak sesuai dengan usia mereka).
2.     Dampingi dan awasi saat anak menonton TV
Bertujuan agar acara televisi yang mereka tonton selalu terkontrol  dan orangtua bisa memperhatikan apakah acara tersebut masih layak atau tidak untuk di tonton .
Tabel 8
Aku selalu ditemani orangtuaku saat menonton TV
Jawaban Responden
Frekuensi
Persen
Laki-laki
Perempuan
Laki- laki
Perempuan
Ya
18
16
52,95%
40%
Kadang-kadang
7
15
20,58%
37,5%
Tidak
9
9
26,47%
22,5%
Total
34
40
100%
100%
Sumber : Pengolah dan Data Quesioner
Setelah kami peroleh data dari hasil Quesioner bisa kita lihat dalam tabel di atas bahwa sebagian orang tua sebagai pendidik di rumah sebagian besar sudah menemani anaknya saat menonton televisi sehingga orang tua dapat mengawasi acara apa saja yang di tonton oleh anak-anaknya di rumah dan bisa menasihati anak-anaknya apabila mereka menonton tayangan televisi yang seharusnya tidak di tonton oleh anak- anak di bawah umur karena mempertimbangkan psikologis dan perkembangan anak tersebut.
Memberikan penjelasan-penjelasan pada anak-anak apabila ada tayangan TV yang tidak sesuai.
Bertujuan untuk mengantisipasi pada anak-anak hal yang salah arti  dalam memahami suatu tayangan TV.
Tabel 9
Aku lebih suka membaca dari pada menonton TV
Jawaban Responden
Frekuensi
Persen
Laki-laki
Perempuan
Laki- laki
Perempuan
Ya
27
33
79,4%
82,5%
Kadang-kadang
6
5
17,65%
12,5%
Tidak
1
2
2,95%
5%
Total
34
40
100%
100%
Sumber : Pengolah dan Data Quesioner
Dari tabel diatas juga di peroleh data sebagian besar siswa-siswa SDN PASIRBADAK lebih menyukai membaca dari pada menonton, maka dari itu pihak sekolah sebaiknya memiliki perpustakaan agar minat membaca siswa dapat tersalurkan, di rumah juga sebaiknya orang tua memfasilitasi anaknya agar anaknya dapat membaca baik buku pelajaran atau buku bergambar yang mempunyai nilai edukatif dan bermanfaat. Dengan cara seperti itu dapat meminimalisir dampak negative yang di timbulkan akibat tayangan televisi.
3.     Memberikan pendidikan yang mengandung nilai-nilai Agama.
Nilai-nilai Agama yang harus selalu di terapkan dan ditumbuhkan di rumah yaitu dengan cara mengikutsertakan pendidikan keagamaan di luar jam sekolah, agar anak-anak kita mendapat bekal nilai-nilai agama sehingga mampu berpikir jernih, punya rencana dan masa depan yang baik. Apabila ditumbuh-kembangkan pendidikan agama kepada anak-anaknya niscaya apapun informasi yang bersifat negatif yang datang dari luar ataupun dari kecanggihan tekhnologi tidak akan berpengaruh bagi anak-anak karena sudah memiliki bekal dan filter untuk menyerap atau menyaring informasi-informasi yang sifatnya negatif.[31]
Sebagai seorang pendidik baik itu orang tua atau guru di sekolah upaya yang dapat kita lakukan untuk mengurangi dampak tayangan televisi terhadap anak dengan cara memberi kesibukan diantaranya belajar sambil bermain di luar rumah atau ditaman atau di lapangan agar anak merasa nyaman dan memberikan nilai yang positif  bagi anak itu sendiri. Dengan cara memberikan PR juga itu dapat member kesibukan anak pada hal yang positif, seperti hasil yang telah kita peroleh dari responden siswa SDN PASIRBADAK dibawah ini :




Tabel 10
Aku lebih suka mengerjakan PR dari pada menonton TV
Jawaban Responden
Frekuensi
Persen
Laki-laki
Perempuan
Laki- laki
Perempuan
Ya
31
37
91%
92,5%
Kadang-kadang
2
-
6%
-
Tidak
1
3
3%
7,5%
Total
34
40
100%
100%
Sumber : Pengolah dan Data Quesioner
Dari data yang telah kami peroleh dari responden diatas dapat di simpulkan dari tabel 10 ini ternyata anak-anak lebih cenderung menyukai mengerjakan PR daripada menonton televisi dan hasilnya pun sangat menakjubkan tenyata lebih dari 90% anak suka mengerjakan PR walaupun masih ada sebagian kecil yang tidak suka mengerjakan PR. Sebaiknya kita sebagai pendidik haruslah memberikan perhatian yang cukup untuk anak-anak kita salah satu caranya dengan memberikan PR dan kesibukan lain disela-sela waktu belajarnya.
Tabel 11
Orangtua aku selalu melarang menonton TV
Jawaban Responden
Frekuensi
Persen
Laki-laki
Perempuan
Laki- laki
Perempuan
Ya
17
21
50%
52,5%
Kadang-kadang
5
12
14,7%
30%
Tidak
12
7
35,3%
17,5%
Total
34
40
100%
100%
Sumber : Pengolah dan Data Quesioner
Dari data tabel 11 diperoleh 50% sebagian dari orang tua siswa SD mereka melarang anaknya untuk menonton tayangan televisi karena dikhawatirkan dampak negatif dari tayangan televisi tersebut. Padahal sebaiknya lebih baik menemani dan mengawasi daripada melarang karena apabila dilarang anak tersebut akan penasaran dan bahkan memberontak. Sebaiknya dengan pendekatan psikologis antara anak dan orang tua.




 
 
 
 
 
 
 
 
 
BAB V
 
Berdasarkan hasil analisis dan Pembahasan dalam Bab sebelumnya, maka dapat ditarik beberapa kesimpulan yang dimana Terdapat dampak positif dan negatif dari kebiasaan menonton film kartun, yaitu, Dampak Positifnya Seorang anak Sekolah dasar menirukan karakter dari tokoh yang di idolakannya yang membuat daya imajinasi dari anak Sekolah dasar tersebut tinggi dan daya fantasi anak terkontaminasi dari perilaku anak karena karakter film kartun. Jika seorang anak mengidolakan karakter Superhero, maka menciptakan karakter suka menolong. Dan dampak negatifnya Daya agresifitas seorang anak sangat mudah terkontaminasi dari apa yang di tonton. ini tentunya sangat mempengaruhi bagaimana sikap-sikap untuk memilih waktu mereka untuk belajar, bermain diluar, menonton hal-hal yang mereka sukai saja, karena apa yang menjadi kebiasaan akan terus mereka (anak-anak) pertahankan/perhatikan. Sehingga menjadi lebih fokus pada siaran-siaran yang umumnya digemari anak-anak.
Perilaku anak yang menonton film kartun di SDN PASIRBADAK ternyata kadang-kadang  siswanya menonton film kartun. Hal ini mempengaruhi bagaimana sikap-sikap untuk memilih waktu mereka untuk belajar, bermain diluar, menonton hal-hal yang mereka sukai saja, karena apa yang menjadi kebiasaan akan terus mereka (anak-anak) pertahankan/perhatikan. Sehingga menjadi lebih fokus pada siaran-siaran yang umumnya digemari anak-anak.
5.2 Saran
1.     Perlu adanya perhatian orang tua terhadap anak, maka perlu diperhatikan hal yang signifikan dengan perkembangan perilaku anak pada saat melihat siaran televisi  terutama film kartun dan membimbing anak untuk melihat hal-hal yang positif yang berguna bagi perkembangan pendidikan fisik dan mental untuk  bersikap lebih baik,.
2.     Perlunya ketegasan Pemerintah membatasi film-film kartun yang berbaur kontak fisik dan ucapan-ucapan kasar dan mengutamakan siaran film kartun yang dapat mendidik anak-anak di usia dini.
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
·       Taylor, Shelley. 2009. “Psikologi Sosial”. Jakarta : Kencana
·       Natadjaja, Listia.2009. pengaruh iklan untuk anak dibandingkan dengan film kartun televisi terhadap affektif anak (http://dgi-indonesia.com/wp-content/uploads/2009/05/dkv02040107.pdf ‎)  Diperoleh : Sunday, ‎January ‎13, ‎2013, ‏‎11:26:23 AM
·       Winataputra, Udin dkk. 2007. “Materi Pembelajaran IPS SD”. Jakarta : Universitas Terbuka.
·       Putra, Syailendra.2009.“Anakku Bertingkah Seperti Sinchan”.Semarang : Pustaka Widyamara
·       Andafalthafunnisa.2012.pengaruh dunia pertelevisian. (blogspot.com) Diperoleh kamis 10-01-2013.Pukul 22.07

[1] Winataputra, Udin dkk. Materi Pembelajaran IPS SD. Jakarta : Universitas Terbuka. 2007. Hal.2.9
[4] Winataputra, Udin dkk. Materi Pembelajaran IPS SD. Jakarta : Universitas Terbuka. 2007. Hal.2.9-2.10
[6] Winataputra, Udin dkk. Materi Pembelajaran IPS SD. Jakarta : Universitas Terbuka. 2007. Hal.2.10
[8] Winataputra, Udin dkk. Materi Pembelajaran IPS SD. Jakarta : Universitas Terbuka. 2007. Hal.2.10
[10] Winataputra, Udin dkk. Materi Pembelajaran IPS SD. Jakarta : Universitas Terbuka. 2007. Hal.2.4-2.5
[12] Winataputra, Udin dkk. Materi Pembelajaran IPS SD. Jakarta : Universitas Terbuka. 2007. Hal.2.6
[13] Winataputra, Udin dkk. Materi Pembelajaran IPS SD. Jakarta : Universitas Terbuka. 2007. Hal.2.8
[14] Taylor, Shelley. “Psikologi Sosial”.Jakarta : Kencana. 2009. Hal. 217
[15] Taylor, Shelley. “Psikologi Sosial”.Jakarta : Kencana. 2009. Hal. 36
[17] Taylor, Shelley. “Psikologi Sosial”.Jakarta : Kencana. 2009. Hal. 217
[19] Desmita. “Psikologi Perkembangan”. Bandung : PT Remaja Rosdakarya. 2005. Hal. 130
[20] Desmita. “Psikologi Perkembangan”. Bandung : PT Remaja Rosdakarya. 2005. Hal. 130
[22] http://www.google.co.id/url?sa=t&rct=j&q=pengaruh+identifikasi+siswa+sd+terhadap+tokoh+kartun Sunday, ‎January ‎13, ‎2013, ‏‎11:26:23 AM
[24] http://www.google.co.id/url?sa=t&rct=j&q=pengaruh+identifikasi+siswa+sd+terhadap+tokoh+kartun Sunday, ‎January ‎13, ‎2013, ‏‎11:26:23 AM
[26]Putra Syailendra. “ Anakku Bertingkah Seperti Sinchan “  2009. Pustaka Widyamara Jawa tengah. Hal. 3-5
[27]Putra Syailendra. “ Anakku Bertingkah Seperti Sinchan “  2009. Pustaka Widyamara Jawa tengah. Hal. 3-4
[28] Putra Syailendra. “ Anakku Bertingkah Seperti Sinchan “  2009. Pustaka Widyamara Jawa tengah. Hal. 5
[29]Putra Syailendra. “ Anakku Bertingkah Seperti Sinchan “  2009. Pustaka Widyamara Jawa tengah. Hal. 83
[30]Putra Syailendra. “ Anakku Bertingkah Seperti Sinchan “  2009. Pustaka Widyamara Jawa tengah. Hal. 85
[31] Andafalthafunnisa.blogspot.com/2012/02/pengaruh dunia pertelevisian.kamis 10-01-2013.Pukul 22.07
1.1 Latar Belakang
1.2 Rumusan Masalah
1.3 Sistematika Penulisan
2.1 Pengertian Imitasi Dan Identifikasi
2.2 Pengertian Sugesti
2.3 Pengertian simpati
2.4 Pengertian perilaku sosial
2.5 Pengertian tindakan sosial
2.5.2 Pengertian Sosialisasi
2.6 Pengertian Psikologi Sosial
Psikologi sosial adalah cabang ilmu psikologi yang meneliti dampak atau pengaruh sosial terhadap perilaku manusia. Bidang ini sangat luas, mencakup berbagai bidang studi dan beberapa disiplin ilmu. Psikolgi sosial juga digunakan dalam berbagai disiplin dan industri; banyak orang memanfaatkan prinsip-prinsip psikologi sosial bahkan tanpa menyadari hal itu ketika mereka mencoba untuk mengendalikan kelompok, pengaruh pendapat seseorang, atau menjelaskan mengapa seseorang berperilaku dengan cara tertentu.[16]
2.7  Perkembangan Anak
2.7.1 Pengertian Kognisi dan Intelegensi
2.7.2 Pengertian Psikomotorik ,Dampak dan Adegan
Sikomotorik adalah kemampuan di dalam masalah skill atau keterampilan dan kemampuan bertindak. Prestasi belajar aspek psikomotor ini merupakan tingkah laku nyata dan dapat di amati.[21]
2.8 Hipotesis
3.1 Waktu dan lokasi Penelitian
3.2 Populasi dan Sampel
3.3 Teknik Pengumpulan Data
3.4 Teknik Analisa Data.
 
4.2 Apa saja dampak yang ditimbulkan dari tayangan televisi terhadap perilaku siswa ?
4.3 Apa solusi yang dilakukan oleh pendidik mengenai dampak negatif yang ditimbulkan dari tayangan televisi ?
















0 komentar:

Posting Komentar