Di dalam keseharian
kita seringlah kita tidak menyadari bahwa sering kali kita meniru segala
sesuatu yang ada d sekitar kita. Pada siswa SD khususnya, mereka selalu meniru
apa yang mereka lihat dan menurut mereka menarik untuk ditiru, sehingga banyak
sekali anak-anak pada khususnya berperilaku yang tidak sesuai dengan usianya
bahkan cenderung bersikap negatif apabila tidak dilakukan oleh pengawasan dari
orang tua/guru dan keluarga terdekatnya. Pada era globalisasi saat ini,
merupakan suatu perubahan zaman yang berkembang pesat, yang dimana teknologi
yang berkembang yang semakin canggih satu diantaranya adalah televisi. Dengan
berbagai tayangan yang disajikan dan dikemas secara menarik.
Televisi juga merupakan
media elektronik visiual yang mampu menyebarkan berita secara cepat dan
mencakup jumlah yang banyak tidak dapat dipungkiri bahwa banyak sekali manfaat
dari penanganan acara televisi namun di sisi lain juga seimbang dengan dampak
negatifnya. Televisi yang salah satu media elektronik yang hampir seluruh
lapisan masyarakat dapat menikmatinya Media ini menyediakan informasi baik
berita, pengetahuan, maupun hiburan yang dapat dinikmati oleh masyarakat secara
bebas. apalagi anak-anak yang masih d bawah umur yang masih butuh pengawasan
dari orang tuanya.
Hasil dari pemerolehan
informasi tersebut dapat berupa pengetahuan, perilaku, dan pemikiran yang telah
terkontaminasi. Dari proses saling mempengaruhi tersebut diinterpretasikan
dalam bentuk bahasa dan tingkah laku seseorang. Fenomena ini sangat terlihat
jelas pada perilaku berbahasa anak-anak.
Acara televisi untuk
anak-anak begitu banyak jumlahnya dan ditayangkan hampir setiap waktu dari pagi
hari bahkan sampai larut malam oleh berbagai stasiun televisi. Berbagai jenis
film kartun televisi telah mempesona anak-anak dan menyedot sebagian besar
waktu dan perhatiannya. Bahkan mereka memilih menonton televisi dibanding
bermain dengan teman sebayanya. Tentu hal ini akan sangat menentukan perilaku
anak, baik dalam pembentukan karakter maupun perilaku bahasanya.
Jenis tayangan media
televisi khususnya acara televisi untuk anak-anak tersebut akan terekam dalam
pikiran anak dan sekaligus dapat mempengaruhi perilaku anak dalam kesehariannya.
Dalam jurnal ini yang akan dibahas
adalah mengenai Pengaruh imitasi siswa
sd terhadap tayangan televisi. Permasalahan yang akan dibahas dalam isi jurnal ini yaitu:
1. Bagaimana pengaruh imitasi siswa SD terhadap tayangan
televisi ?
2. Apa saja dampak yang ditimbulkan dari tayangan
televisi terhadap
perilaku siswa?
3. Apa solusi yang dilakukan oleh pendidik mengenai dampak
negatif yang ditimbulkan dari tayangan televisi khususnya
film kartun ?
Jurnal ini terdiri dari 5
a) BAB I adalah Pendahuluan, yang
terdiri dari Latar Belakang, Rumusan Masalah, Sistematika Penelitian, dan Manfaat Penelitian
b) BAB II Review Literature, dari beberapa sumber buku dan
internet yang telah kami baca yang berisi pengertian atau definisi dari apa
yang akan kami bahas dalam jurnal ini.
c) BAB III Metodologi Penelitian terdiri dari waktu dan
lokasi penelitian, populasi dan sampel, teknik pengumpulan data, teknik analisa
data dan questioner.
d) BAB IV Pembahasan tentang rumusan masalah yang telah
kami ajukan dalam bab sebelumnya dalam jurnal ini
e) BAB V Penutup yang berisikan Kesimpulan dan Saran. Sebagai pertanggung
jawaban disertakan pula Daftar Pustaka
1. Bagi
Peneliti
Dapat
menambah wawasan dan pengalaman peneliti tentang pembuatan jurnal
terhadap pengaruh
imitasi siswa SD terhadap tayangan televisi
2.
Institusi Pendidikan
Hasil
penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai dasar untuk lebih mengerti
tentang pengaruh imitasi siswa SD terhadap tayangan televisi sehingga guru
pengajar di sekolah tersebut dapat membantu dan membimbing siswa agar tidak
berdampak negatif atas pengaruh imitasi siswanya terhadap tayangan yang
disiarkan statiun televisi.
3.
Bagi Responden
Hasil
penelitian ini diharapkan dapat memberikan gambaran tentang persepsi pengaruh
imitasi siswa SD terhadap tayangan televisi. Hasil penelitian ini juga dapat
dijadikan bahan bacaan bagi yang memerlukan dan sebagai bahan pertimbangan
untuk penelitian yang akan datang.
REVIEW LITERATURE
Kata imitasi memiliki
arti secara hafiah yakni “TIRUAN”, di samping merupakan suatu konsep. Imitasi
dapat terjadi apabila seseorang melakukan tindakan peniruan secara sadar atau
tidak terhadap perilaku orang lain.Misalnya seorang anak yang berperilaku
seperti orang tuanya. Proses imitasi dapat bersifat positif dan dapat
menimbulkan hal-hal yang bersifat negatif. Bersifat positif jika tidak
bertentangan dengan kaidah dan dapat mendorong seseorang untuk mematuhi serta
mempertahankan kaidah tersebut, sedangkan bersifat negatif jika yang ditiru
merupakan tindakan-tindakan yang menyimpang. [1]
Imitasi
atau meniru adalah suatu proses kognisi untuk melakukan tindakan maupun aksi seperti yang
dilakukan oleh model
dengan melibatkan indera
sebagai penerima rangsang dan pemasangan kemampuan persepsi untuk
mengolah informasi dari rangsang dengan kemampuan aksi untuk melakukan gerakan
motorik. Proses ini melibatkan kemampuan kognisi tahap
tinggi karena tidak hanya melibatkan bahasa namun juga
pemahaman terhadap pemikiran orang lain.[2]
Imitasi yaitu proses
sosial atau tindakan seseorang untuk meniru orang lain, baik sikap penampilan,
gaya hidupnya, bahkan apa-apa yang dimilikinya. Imitasi pertama kali muncul di
lungkungan keluarga, kemudian lingkungan tetangga dan lingkungan masyarakat.[3]
Identifikasi
yaitu merupakan kecenderungan atau keinginan-keinginan dalam diri seseorang
untuk menjadi identik dengan orang lain, yang menjadi idolanya. Identifikasi
secara sederhana dapat diartikan sebagai proses menyamakan diri terhadap orang
lain, yang dapat dilakukan melalui imitasi atau sugesti misalnya, seorang
remaja yang memiliki idola, seorang penyanyi maka ia akan berusaha menyamakan
dirinya dengan idolanya tersebut misalnya dengan meniru model rambut atau
pakaiannya tanpa berpikir secara rasional. [4]
Indentifikasi
adalah upaya yang dilakukan oleh seorang individu untuk menjadi sama (identik)
dengan individu lain yang ditirunya. Proses identifikasi tidak hanya terjadi
melalui serangkain proses peniruan pola perilaku saja, tetapi juga melalui proses
kejiwaaan yang sangat mendalam.[5]
Sugesti
merupakan suatu proses penanaman gagasan, pandangan atau perasaan ke dalam
pikiran seseorang dan diterimanya tanpa melalui pemikiran yang kritis. Sugesti
cepat terjadi pada orang yang mengalami stress, mengalami tekanan atau
kemampuan berpikirnya lemah sehingga mudah menerima pandangan yang berasal dari
orang lain. Sedangkan pelaku sugesti akan cepat berhasil jika ia berada pada
posisi yang menentukan, memiliki kekuatan dan kekuasaan. Misalnya, orangtua
otoriter yang menerapkan berbagai perintah dan larangan kepada anaknya sehingga
diterimanya secara dogmatis. [6]
Sugesti
merupakan kata
pungut dalam Bahasa Indonesia dari Bahasa
Inggris suggestion. Sugesti adalah proses psikologis
dimana seseorang membimbing pikiran, perasaan, atau perilaku orang
lain. Penulis
topik psikologi
pada abad
kesembilanbelas seperti William James menggunakan kata-kata suggest
dan suggestion dalam pengertian mendekati maknanya dalam
percakapan sehari-hari,-kata saran (suggest) mengacu arti harfiah "memberi
saran" kepada orang lain sementara sugesti (suggestion) mengacu kepada
pikiran. Kajian ilmiah
awal tentang hipnosis
oleh Leonard Clark Hull dan
ilmuwan lain memperluas arti kata sugesti ini secara khusus dan teknis (Hull,
1933). Teori neuro-psikologis asli dari sugesti hipnosis didasarkan pada konsep
respon ideo motor dari William B. Carpenter
dan James
Braid .[7]
Suatu
proses dimana seseorang merasa tertarik kepada pihak lain, yang lebih didorong
oleh perasaannya dan bersifat subjektif dinamakan simpati. Misalnya, seseorang
memilih melihat orang lain dan langsung tertarik padahal sebelumnya tidak
pernah bertemu.[8]
Simpati
adalah suatu proses seseorang merasa tertarik terhadap pihak lain, sehingga
mampu merasakan apa yang dialami, dilakukan dan diderita orang lain. Dalam
simpati, perasaan memegang peranan penting. Simpati akan berlangsung apabila
terdapat pengertian pada kedua belah pihak. Simpati lebih banyak terlihat dalam
hubungan persahabatan, hubungan bertetangga, atau hubungan pekerjaan. Seseorang
merasa simpati dari pada orang lain karena sikap, penampilan, wibawa, atau
perbuatannya. Misalnya, mengucapkan selamat ulang tahun pada hari ulang tahun
merupakan wujud rasa simpati seseorang.[9]
Perilaku
erat kaitannya dengan kepribadian, yang terbentuk melalui sosialisasi semenjak
masa kanak-kanak sampai usai tua sehingga menjadi ajang pembinaan kepribadian
(personality building) bagi seseorang. Sosialisasi dan kepribadian akan
membentuk sistem perilaku (behavior system), dimana perilaku tersebut harus
menyesuaikan dengan kaidah yang berlaku (conformity), tetapi seiring terjadi
perilaku yang menyimpang (deviation) yang dapat memicu terjadinya perubahan
sosial.[10]
Perilaku
sosial adalah suasana saling ketergantungan yang merupakan keharusan
untuk menjamin keberadaan manusia (Rusli Ibrahim, 2001). Sebagai bukti
bahwa manusia dalam memnuhi kebutuhan hidup sebagai diri pribadi tidak dapat
melakukannya sendiri melainkan memerlukan bantuan dari orang lain.Ada
ikatan saling ketergantungan diantara satu orang dengan yang lainnya.
Artinya bahwa kelangsungan hidup manusia berlangsung dalam suasana
saling mendukung dalam kebersamaan. Untuk itu manusia dituntut
mampu bekerja sama, saling menghormati, tidak menggangu hak orang lain, toleran
dalam hidup bermasyarakat.[11]
Tindakan
sosial adalah tindakan individu yang diarahkan pada orang lain dan memiliki
arti, baik bagi diri si pelaku maupun bagi orang lain. Dalam tindakan sosial
mengandung tiga konsep, yaitu tindakan, tujuan dan pemahaman. Ciri-ciri dari
tindakan sosial adalah : tindakan memiliki makna subjektif, tindakan nyata yang
bersifat membatin dan bersifat subjektif, tindakan berpengaruh positif,
tindakan diarahkan pada orang lain dan tindakan merupakan respons terhadap
tindakan orang lain. Berdasarkan tingkat pemahamannya, te3rdapat rasionalitas
instrument. Rasionalitas berorientasi pada nilai dan tindakan afektif serta
tindakan tradisional.[12]
2.5.1 Pengertian Interaksi sosial
Interaksi
sosial merupakan prasyarat terbentuknya masyarakat karena melalui interaksi
tersebut akan terjalin hubungan antarindividu dan individu dengan kelompok
serta hubungan antar kelompok, yang ditandai dengan adanya hubungan timbale
balik antara pihak yang berinteraksi. Terjadinya interaksi sosial di perlukan
interaksi sosial dan komunikasi. Iimitasi, sugesti, identifikasi dan simpati
merupakan factor yang dapat melangsungkan interksi sosial.Dalam kehidupan
sehari-hari ditemui dua bentuk interaksi sosial, yaitu yang bersifat asosiatif
dan disosiatif. Bentuk interaksi sosial yang bersifat asosiatif adalah
kerjasama (cooperative) dan akomodasi (accommodation) sedangkan yang termasuk
kedalam bentuk disosiatif yaitu persaningan (competition), kontrafensi
(controfetion) dan pertentangan (conflict).[13]
interaksi sebagai
suatu kejadian ketika suatu aktivitas yang dilakukan oleh seseorang terhadap
individu lain diberi ganjaran atau hukuman dengan menggunakan suatu tindakan
oleh individu lain yang menjadi pasangannya.
Konsep
yang dikemukakan oleh Homans ini mengandung pengertian bahwa interaksi adalah
suatu tindakan yang dilakukan oleh seseorang dalam interaksi merupakan suatu
stimulus bagi tindakan individu lain yang menjadi pasangannya. Homans ( dalam
Ali, 2004: 87) mendefinisikan
Sosialisasi adalah proses yang dijalani anak dalam belajar norma sosial
konvensional di sekitar mereka. [14]
Menurut Maccoby dan jacklin teori
Sosialisasi terdiri dari sebagai berikut:
1. Teori Imitasi,
mengenal indentifikasi awal seorang anak terhadap anggota keluarga yang jenis
kelaminnya sama dengannya, dengan menirukan tingkah laku tertentu orang dewasa.
Anak akan mengidentifikasikan dirinya dengan orangtuanya yang berjenis kelamin
sama dengannya.
2. Self-socialization,
dalam teori ini anak akan berusaha mengembangkan konsep tentang dirinya. Dan
juga mengembangkan konsep suatu pengertian tentang apa yang harus dilakukan
bagi jenis kelamin yang bersangkutan.
3. Teori
Reinforcement, menekankan penggunaan saksi berupa hukuman atau penghargaan. Hal
ini akan mendorong anak bertingkah laku sesuai dengan jenis kelaminnya. Sanksi
yang diberikan oleh keluarga ataupun orang dewasa lainnya.
Pengertian
psikologi sosial adalah studi ilmiah terhadap bagaimana orang berpikir, mempegaruhi dan berhubungan dengan orang lain. Psikolog sosial
sering menekankan pada kekuatan situasi sosial langsung dalam memengaruhi
perilaku.
Teoritis
utama dalam psikologi sosial adalah, teori motivasi, teori belajar, teori
kognitif, teori pengambilan keputusan dan teori independensi. [15]
Piaget dalam penelitiannya mengenai
perkembangan anak mengemukakan bahwa perkembangan anak dibagi menjadi tiga
yaitu : perkembangan kognitif, psikomotorik dan affektif (Gunarsa, 1997: 136).[17]
`Perkembangan
Anak adalah bertambahnya kemampuan (skill)dalamstruktur
dan fungsi
tubuh yang lebih kompleks dalam pola yang teratur dandapat diramalkan, sebagai
hasil dari pematangan.Di sini menyangkut
adanya proses diferensiasi dari sel-sel tubuh, jaringantubuh,
organ-organ dan sistem yang berkembang sedemikian rupa per-kembangan emosi,
intelektual dan tingkah laku sebagai hasil interaksidengan lingkungannya.[18]
Kognisi adalah pengertian yang luas
mengenai berpikir dan mengamati, jadi tingkah laku-tingkah laku yang
mengakibatkan orang memperoleh pengetahuan atau yang dibutuhkan untuk
menggunakan pengetahuan.
Secara historis, afeksi tersebut
dibedakan dari kognisi (cognition, pengenalan) dan volisi atau kemauan (volition)
dan (titchener) kesenangan dan ketidaksenangan. Definisi lain dari
affektif adalah kemampuan mengolah kepekaan rasa dan emosi berdasarkan suatu
kebenaran yang relatif. Dari ketiga perkembangan anak yang dikemukakan oleh
Piaget, perkembangan affektiflah yang dapat secara langsung berpengaruh pada
anak.
Sesuai dengan teori
kognitif Piaget, maka perkembangan kognitif pada masa awal anak-anak dinamakan
tahap praoperasional (praoperational stage), yang berlangsung dari usia 2-7
tahun. Pada tahap ini, konsep yang stabil dibentuk, penalaran mental muncul,
egosentrisme mulai kuat dan kemudian melemah, serta terbentuknya keyakinan
terhadap hal yang magis. Tetapi, sebagai “pra” dalam istilah “praoperasional”,
menunjukkan bahwa pada tahap ini teori Piaget difokuskan pada keterbatasan
pemikiran anak. Istilah “operasional” menunjukkan pada aktivitas mental yang
memungkinkan anak untuk memikirkan peristiwa-peristiwa atau pengalaman-pengalaman
yang dialaminya.
Pemikiran
praoperasional tidak lain adalah suatu masa tunggu yang singkat bagi pemikiran
operasional, sekalipun label “praoperasional” menekankan bahwa anak pada tahap
ini belum berpikir secara operasional.[19]
Sedangkan definisi intelegensi
adalah suatu kecakapan global atau rangkuman kecakapan seseorang untuk dapat
bertindak secara terarah, berfikir secara baik dan bergaul dengan lingkungannya
secara efisien menurut Wechsler (dalam Gunarso, 1997).
Psikomotorik adalah ketrampilan
untuk menggunakan organ-organ tubuh, suatu kegiatan organ-organ tubuh seperti
otot, syaraf dan kelenjar. Sedang affektif (afek, afeksi), kasih sayang, cinta
adalah perasaan yang sangat kuat, satu kelas yang luas dari proses-proses
mental, termasuk perasaan emosi, suasana, hati dan temperamen.[20]
Menurut Otto
Soemarwonto (1989;4) Dampak adalah suatu perubahan yang terjadi sebagai akibat
suatu aktifitas dan aktifitas itu dapat dilakukan oleh manusia yang mengarah
kepada perubahan dalam kehidupan manusia itu sendiri.
Dampak dapat berwujud
dalam bentuk positif, yaitu berguina bagi yang menerima dampak tersebut, dan
bisa berdampak negatif bila hal itu mengurangi atau merendahkan martabat dari
yang menerima dari dampak tersebut. [22]
Dampak secara sederhana bisa
diartikan sebagai pengaruh atau akibat. Dalam setiap keputusan yang diambil
oleh seorang atasan biasanya mempunyai dampak tersendiri, baik itu dampak
positif maupun dampak negatif. Dampak juga bisa merupakan proses lanjutan dari
sebuah pelaksanaan pengawasan internal. Seorang pemimpin yang handal sudah
selayaknya bisa memprediksi jenis dampak yang akan terjadi atas sebuah
keputusan yang akan diambil.[23]
Menurut Ciu cahyono,
adegan adalah kejadian dalam kerangka fiksi yang didalamnya terdapat laku atau
tutur dari tokoh-tokoh cerita, yang terbingkai dalam suatu setting waktu dan
setting tempat.
Adegan dapat diartikan
sebagai bagian babak dalam lakon sandiwara, film atau sinetron. Adegan
kekerasan dalam yang ditayangkan dalam film atau sinetron dapat mempengaruhi
kejiwaan seseorang.[24]
Adegan
adalah tindakan berkesinambungan dari seseorang atau beberapa orang yang
ditampilkan pada suatu latar (tempat dan waktu). Untuk membangun adegan yang
baik, anda harus mampu menggambarkan latar, menampilkan para tokoh, dan
menyajikan perbuatan mereka dengan jelas.[25]
Berdasarkan Rumusan
Masalah pada Bab I dan Bab II Review Literature, ada kecenderungan anak lebih mudah meniru dari apa yang sering mereka
lihat, tidak terkecuali tayangan televisi. Dan anak akan menjadi apa yang
seperti dia inginkan setelah dia melihat tayangan yang ada di televisi dan
menirunya. Pada dasarnya anak sadar bahwa menonton televisi tidak ada
manfaatnya akan tetapi anak tetap kecanduan menonton tayangan televisi dan anak
selalu ingin menonton televisi.
Menurut
pengamatan kami pada anak-anak di lingkungan keluarga mereka selalu meniru film
kartun yang mereka tonton dan mengimplementasikannya dalam kehidupan
sehari-hari di kejadian yang nyata, seperti perilaku anak-anak yang suka
berkelahi menggunakan jurus yang ada di film-film kartun yang dia lihat padahal
berkelahi seperti itu dapat membahayakan dia dan orang-orang disekitar mereka
tanpa mereka sadari hal itu.
METODOLOGI
1. Waktu
Penelitian
Penelitian ini
direncanakan selama kurung lebih satu bulan yaitu dimulai pada bulan Januari
sampai bulan Februari, tahun 2013.
2. Lokasi
penelitian
Lokasi penelitian ini
mengambil lokasi di SDN PASIRBADAK, Kp.Pasirbadak Ds.Kebonmanggu
Kec.Gunungguruh Kabupaten Sukabumi 43156. Dengan alasan, karena
anak siswa Sekolah Dasar lebih cenderung menirukan apa saja yang ada di
tayangan televisi apalagi tokoh kartun dan adegan yang ada di film kartun
tersebut.
Populasi dan sampel
a. Populasi
Populasi dalam
penelitian ini yaitu siswa SDN PASIRBADAK Kp.Pasirbadak Ds.Kebonmanggu
Kec.Gunungguruh Kabupaten Sukabumi 43156.
Tabel 1. Populasi Siswa
SDN PASIRBADAK
No
|
Kelas
|
Laki-Laki
|
Perempuan
|
Jumlah
|
1
|
I
|
20
|
21
|
41
|
2
|
II
|
6
|
20
|
40
|
3
|
III
|
23
|
19
|
42
|
4
|
IV
|
18
|
17
|
35
|
5
|
V
|
15
|
12
|
27
|
6
|
VI
|
17
|
15
|
32
|
Total Keseluruhan
|
96
|
107
|
203
|
|
Sumber : Ibu Wiwi
Juwita L S.Pd.SD (Guru Kelas SDN Pasirbadak)
b. Sampel
Sampel adalah sebagian
dari populasi yang akan diteliti dan dianggap dapat mewakili seluruh populasi
(Notoadmojo, 2005). Sampel yang akan diambil adalah siswa/siswi di SDN PASIRBADAK tahun 2013
yang hadir selama waktu penelitian
dan memenuhi kriteria inklusi..
a) Jumlah
Sampel
Menentukan jumlah
sampel suatu penelitian tergantung pada dua hal yaitu pertama adanya
sumber-sumber yang dapat digunakan untuk menentukan batas maksimal dan dari
besarnya sampel. Kedua kebutuhan dari rencana analisis yang menentukkan batas
minimal dari besarnya sampel ( Notoatmodjo, 2005).
Rumus pengambilan
sampel :
n
= 

n = 668
Berdasarkan perhitungan di atas dari jumlah populasi sebanyak 203 orang
dengan nilai presisi mutlak dan tingkat kepercayaan 90 %
didapatkan jumlah sampel sebanyak 67 orang. Untuk mencegah kesalahan data, maka peneliti
menambahkan 10% dari jumlah sampel minimal sehingga total sampel yang peneliti
ambil berjumlah :
b)
Kriteria
1) Kriteria inklusi
a)
Siswa/siswi di SDN
PASIRBADAK SUKABUMI tahun 2013 yang hadir di sekolah
b)
Siswa/siswi yang bersedia untuk menjadi responden
2) Kriteria ekslusi
Siswa/siswi yang tidak masuk sekolah pada saat
pengumpulan data.
Dalam hal ini, kami
membagikan daftar pertanyaan kepada responden yang dianggap dapat mewakili
untuk memberikan informasi yang baik dan akurat. Pengumpulan data dilakukan dengan cara membagikan kuesioner kepada 74 responden yang telah dipersiapkan oleh peneliti,
kemudian kuesioner dikumpulkan oleh peneliti setelah selesai diisi oleh
responden.
1.
Instrument / alat
penelitian
Instrument
yang digunakan dalam pelaksanaan penelitian adalah :
a.
Quesioner
Teknik angket
adalah salah satu cara untuk mengumpulkan data atau informasi dengan menggunakan serangkaian
pertanyaan yang diajukan kepada responden secara tertulis. Quesioner dibuat dengan menggunakan skala Linkert untuk pernyataan
positif dengan nilai Iya = 3, Kadang-Kadang = 2,
Tidak = 1. Sedangkan untuk pernyataan
bersifat negatif dengan
nilai Iya = 1, Kadang-Kadang= 2, dan Tidak = 3.
b. Alat
tulis
Alat
tulis yang digunakan adalah pensil atau pulpen untuk mencatat hasil pengumpulan
data.
c. Komputer
Komputer
digunakan untuk mengolah data setelah data dari responden terkumpul.
Teknik analisa data
yang digunakan dalam penelitian ini dianalisis secara kuantitatif dengan
menggunakan tabel frekuensi, kemudian diuraikan dalam bentuk penjelasan.
QUESIONER
Pengaruh Imitasi Siswa
SD Terhadap Tayangan Televisi
Dalam rangka memenuhi mata
perkuliahan Pendidikan IPS di SD 1 dalam tugas pembuatan Jurnal , kami selaku mahasiswa Universitas
Muhammadiyah Sukabumi (UMMI) Jurusan Pendidikan
Guru Sekolah Dasar memohon kesediaan
Anda untuk mengisi beberapa pertanyaan di bawah ini.
Petunjuk Pengisian
:
1.
Jawablah pertanyaan
dibawah ini dengan cara menceklis (√) pilihan :
Iya
(Y)
Kadang-kadang
(K)
Tidak (T)
2.
Jika
dalam pengisian Anda mengalami hambatan atau kurang mengerti Anda dapat
bertanya pada peneliti.
3.
Jawablah
pertanyaan-pertanyaan yang diberikan sesuai dengan apa yang Anda rasakan,
tanpa rekayasa dan benar adanya karena besar manfaat yang akan Anda ketahui
dari hasil jawaban Anda.
No. Responden :
Nama :
Umur :
Kelas :
Jenis Kelamin :
No.
|
Pertanyaan
|
Y
|
K
|
T
|
1.
|
Aku
selalu menonton TV setiap hari
|
|||
2.
|
Film
kartun adalah film favorit aku
|
|||
3.
|
Aku
ingin seperti tokoh dalam kartun yang aku sukai
|
|||
4.
|
Aku
selalu meniru apa yang saya tonton di TV
|
|||
5.
|
Orangtua
aku selalu melarang menonton TV
|
|||
6.
|
Tontonan
TV mengganggu belajar aku
|
|||
7.
|
Aku
selalu ditemani orang tuaku saat menonton TV
|
|||
8.
|
Aku
lebih suka membaca daripada menonton TV
|
|||
9.
|
Apakah
nonton TV ada manfaatnya untuk kamu ?
|
|||
10.
|
Aku
lebih suka mengerjakan PR daripada menonton TV
|
Berilah
tanda ceklis (√) pada kolom yang sesuai pilihan kamu !
Keterangan
:
Y
: Ya
K
: Kadang-kadang
T
: Tidak
BAB IV
PEMBAHASAN
Mengingat
daya khayal dan daya serap anak-anak relatif dalam mengadaptasi adegan-adegan
yang disajikan dalam berbagai tayangan televisi, maka adegan-adegan itu akan
tertinggal dan membekas dalam diri anak yang selanjutnya akan mempengaruhi perilakunya.
Sesuai
perkembangannya, mulai umur 7-8 tahun anak mulai kritis terhadap lingkungannya
dan membutuhkan penjelasan konkret serta masuk akal.
Maraknya
acara televisi untuk anak terutama yang dikemas dalam bentuk film kartun cukup
menarik perhatian anak namun sekaligus keprihatinan orang tua. Seiring dengan
banyaknya film-film kartun yang ditayangkan utamanya dari Jepang dan Amerika
sehingga dapat mempengaruhi perkembangan anak yang pada hakikatnya mereka
meniru apa yang dia lihat tanpa memikirkan mana yang baik dan mana yang buruk
seperti hasil data questioner yang telah kami teliti seperti dibawah ini :
Tabel
2
Aku
Selalu Menonton TV Setiap Hari
Jawaban
Responden
|
Frekuensi
|
Persen
|
||
Laki-laki
|
Perempuan
|
Laki-
laki
|
Perempuan
|
|
Ya
|
24
|
20
|
70,5%
|
50%
|
Kadang-kadang
|
10
|
19
|
29,5%
|
47,5%
|
Tidak
|
-
|
1
|
-
|
2,5%
|
Total
|
34
|
40
|
100%
|
100%
|
Sumber : Pengolah dan Data Quesioner
Dengan
demikian dari data tabel 2 dapat dipastikan seluruh responden yang diteliti
menghabiskan waktu menonton siaran televisi setiap harinya sehingga dengan
berbagai tayangan televisi yang bermacam-macam. Dari data tersebut dapat
disimpulkan bahwa anak-anak telah banyak menonton tayangan televisi dengan
adegan yang bermacam-macam sehingga anak-anak meniru adegan apa yang telah dia
lihat/tonton.
Tabel
3
Film
Kartun adalah Film favorit aku
Jawaban
Responden
|
Frekuensi
|
Persen
|
||
Laki-laki
|
Perempuan
|
Laki-
laki
|
Perempuan
|
|
Ya
|
30
|
36
|
88,25%
|
90%
|
Kadang-kadang
|
2
|
-
|
5,88%
|
-
|
Tidak
|
2
|
4
|
-
|
10%
|
Total
|
34
|
40
|
100%
|
100%
|
Sumber : Pengolah dan Data
Quesioner
Dari
data tabel 3 diatas diperoleh data bahwa lebih dari 80% anak-anak yang
menjadi sampel penelitian film favorit mereka adalah kartun dengan berbagai
jenis film kartun yang terkadang film kartun tersebut menceritakan suatu hal
yang tidak sesuai dengan usia anak-anak. Terkadang banyak juga adegan kekerasan
seperti berkelahi yang dapat memicu anak untuk berkelahi dalam kehidupan
sehari-hari mereka, sehingga dapat membahayakan anak itu sendiri dan orang lain
disekitarnya.
Tabel 4
Aku
ingin seperti tokoh dalam kartun yang aku sukai
Jawaban
Responden
|
Frekuensi
|
Persen
|
||
Laki-laki
|
Perempuan
|
Laki-
laki
|
Perempuan
|
|
Ya
|
28
|
33
|
82,35%
|
82,5%
|
Kadang-kadang
|
1
|
4
|
2,95%
|
10%
|
Tidak
|
5
|
3
|
14,7%
|
7,5%
|
Total
|
34
|
40
|
100%
|
100%
|
Sumber
: Pengolah dan Data Quesioner
Dari data tabel 4 dapat disimpulkan
dari data yang telah kami peroleh bahwa lebih dari 80% anak yang menjadi
sampel penelitian kami ingin seperti tokoh yang mereka sukai. Hal seperti ini menjadi
perhatian lebih bagi kami sebagai peneliti karena meniru tokoh yang ada di
dalam kartun mengandung hal positif dan hal negatifnya.
Tabel 5
Aku
selalu meniru apa yang saya tonton di TV
Jawaban
Responden
|
Frekuensi
|
Persen
|
||
Laki-laki
|
Perempuan
|
Laki-
laki
|
Perempuan
|
|
Ya
|
15
|
18
|
44,11%
|
45%
|
Kadang-kadang
|
9
|
10
|
26,47%
|
25%
|
Tidak
|
10
|
12
|
29,42%
|
30%
|
Total
|
34
|
40
|
100%
|
100%
|
Sumber : Pengolah dan Data
Quesioner
Dengan data yang tabel 5 diatas
dapat disimpulkan lebih dari 40%
bahwa anak-anak selalu meniru apa saja yang mereka tonton/lihat ditelevisi.
Sebagian besar dari mereka meniru adegan yang menurut mereka menarik dan
menyenangkan untuk ditiru, padahal sebaiknya mereka memilih terlebih dahulu hal
yang positifnya baru mereka menirunya tapi disini mereka meniru semua apa yang
mereka lihat tanpa memikirkan dampak negatif yang dihasilkan dari meniru
tersebut.
Dampak yang diakibatkan akibat imitasi
siswa SD terhadap tayangan televisi diantaranya ketika anak meniru perilaku
kekerasan seperti berkelahi yang dapat membahayakan dirinya sendiri dan orang
lain yang berada di sekitarnya.
Dampak Televisi Terhadap Anak-anak
Televisi mempunyai dampak-dampak
sendiri terhadap anak-anak. Disadari ataupun tidak sebagian besar prilaku
anak-anak zaman sekarang banyak dipengaruhi oleh media elektronik, terutama televisi.
Berikut adalah dampak nyata yang bisa kita lihat sehari-hari.
1. Sikap
·
Ingin mendapatkan atau
muatan mencapai sesuatu selekas mungkin (instanly). Di layar televisi, gambar
berlangsung cepat. Gaya televisi memang mengharuskan kecepatan itu. Segalanya
serba seketika. Hitungan yang berlaku dalam penayangan televisi adalah detik.
·
Kurang menghargai
Proses. Sebagai lanjutan dari ingin cepat mencapai sesuatu, anak-anak menjadi
kurang menghargai bahkan di sana sini ingin mengabaikan, kalau bisa segala
sesuatu ada jalannya. Ada awal dan ada proses, timbul kecenderungan ingin
mendapatkan sesuatu lewat jalan pintas.
·
Kurang dapat membedakan
khayalan dengan kenyataan.
2. Perilaku
·
Peniruan perbuatan
kekerasan dan negatif lainnya.
3. Pendidikan
·
Menyita waktu,
mengurangi minat dan perhatian untuk
belajar.
·
Menyaingi minat untuk
membaca.
4. Nilai
dan Agama
·
Mengaburkan nilai-nilai
agama dan sosial dalam hal etika, kesopanan dan susila.
·
Mengorbankan semangat
keduniaan
5. Budaya
·
Mendorong kekaguman
yang berlebih kepada kebuadayaan barat dan mengurangi perhatian terhadap
identitas Nasional.
Tabel
6
Apakah
nonton TV ada manfaatnya untuk kamu?
Jawaban
Responden
|
Frekuensi
|
Persen
|
||
Laki-laki
|
Perempuan
|
Laki-
laki
|
Perempuan
|
|
Ya
|
11
|
13
|
32,35%
|
32.5%
|
Kadang-kadang
|
4
|
4
|
11,75%
|
10%
|
Tidak
|
19
|
23
|
55,9%
|
57,5%
|
Total
|
34
|
40
|
100%
|
100%
|
Sumber : Pengolah dan Data
Quesioner
Dari data tabel 6 yang diperoleh
dari questioner kepada siswa SD kelas I -
VI di SDN PASIRBADAK dapat kita memperoleh bahwa hampir 33% anak laki-laki
menjawab ada manfaatnya dan hampir sama
anak perempuan juga menjawab ada manfaatnya, tetapi lebih banyak siswa yang menjawab bahwa
menonton televisi itu tidak ada manfaatnya. Maka dapat kita simpulkan bahwa mereka menyadari menonton televisi itu tidak ada manfaatnya apabila
tayangan yang kita tonton itu memberikan manfaat yang baik tetapi tayangan televisi
itu juga dapat menimbulkan dampak yang negatif apabila tanyangan tersebut tidak
mendidik bahkan menjerumuskan kedalam hal-hal yang tidak baik. Pengaruh positif
dan negatifnya kita uraikan seperti dibawah ini :
Pengaruh
Positif Televisi
Meskipun
sebagian besar masyarakat berpendapat bahwa televisi mempunyai pengaruh yang
negatif tetapi banyak juga dampak positifnya apabila kita manfaatkan dengan
baik, contohnya kita dapat mengambil pelajaran dari film-film yang mempunyai
pesan-pesan
Dampak
positif dari televisi
Media
televisi dituding oleh banyak pihak sebagai biyang keladi dari banyak kerusakan
moral yang terjadi di tanah air kita ini. Namun disamping semua dampak negatif
tersebut, kita masih bisa menemukan dampak positif dari televisi, di antaranya
adalah:
1. Memperluas
wawasan dan cakrawala pengetahuan
2. Menyebarkan
informasi dari satu daerah ke daerah lain secara cepat.
3. Media
hiburan dan rekreasi pikiran
4. Mempercepat
proses kemajuan tekhnologi diNegara kita
Pengaruh Negatif televisi
Selain
ada dampak positif televisi juga memiliki dampak negatif apalagi dampak negatif
terhadap anak-anak yang terganggu saat belajar karena tayangan film di televisi
yang lebih menarik dan menyenangkan dibandingkan belajar atau mengerjakan PR
untuk anak-anak, seperti hasil pengamatan kami di bawah ini :
Tabel
7
Tontonan
TV mengganggu belajar aku
Jawaban
Responden
|
Frekuensi
|
Persen
|
||
Laki-laki
|
Perempuan
|
Laki-
laki
|
Perempuan
|
|
Ya
|
28
|
35
|
82,35%
|
87,5%
|
Kadang-kadang
|
4
|
3
|
11,75%
|
7,5%
|
Tidak
|
2
|
2
|
5,9%
|
5%
|
Total
|
34
|
40
|
100%
|
100%
|
Sumber : Pengolah dan Data Quesioner
Dari
data tabel 7 pengamatan yang telah kami peroleh dari questioner pada sampel
anak SD 82,35% siswa SD terganggu
dengan tontonan televisi dan 87,5%
siswi juga terganggu dengan tontonan televisi. Dengan demikian dapat
disimpulkan bahwa sebagian besar dari siswa-siswi SD yang masih berkewajiban
untuk sekolah dan belajar terganggu dengan tontonan televisi apalagi film
kartun yang mereka favoritkan.
Dampak
Negatif Televisi memang banya disorot oleh berbagai pihak. Berikut di antara
dampak negatif televisi menurut
Strubhaar dan LaRose:
1. Kekerasan
2. Anak-anak
memiliki kesulitan membedakan anatara dunia nyata dan dunia Televisi
3. Prasangka
4. Seksisme,
Rasisme dan bentuk-bentuk lainnya
5. Prilaku
seksual
6. Penyalahguanaan
Obat-obatan
7. Keterbukaan
iklan berhubungan dengan konsumsi mereka akan produk.[26]
Nasution
mengemukakan dampak televisi terhadap anak-anak:
1. Sikap
· Ingin
mendapatka atau mencapai sesuatu selekas mungkin (instanly). Di layar televisi
gambar berlangsung cepat. Gaya televisi memang mengharuskan kecepatan itu.
Segalanya serta seketika. Itungan yang berlaku dalam penayangan televisi adalah detik.
· Kurang
menghargai proses. Sebagai lanjutan dari ingin cepat mencapai sesuatu,
anak-anak menjadi kurang menghargai, bahkan disana sini ingin mengabaikan-
kalau bisa segala sesuatu ada jalannya. Ada awal terhadap proses, timbul
kecenderungan ingin mendapatkan sesuatu lewat jalan pintas.
· Kurang
dapat membedakan khayalan dan kenyataan.
2. Perilaku
· Peniruan
perbuatan kekerasan dan negatif lainnya.
3. Pendidikan
· Menyita
waktu, mengurangi minat dan perhatian untuk belajar.
· Menyaingi
minat untuk membaca
4. Nilai
dan Agama
· Mengaburkan
Nilai-nilai agama dan social dalam hal Etika kesopanan dan susila.
· Mengorbankan
semgat keduniaan
5. Budaya
· Mendorong
kekaguman yang berlebih kepada kebudayaan barat dan mengurangi perhatian pada
identitas Nasional[27]
Hurlock
menyebutkan sedikitnya ada 7 hal bagaimana film mempengaruhi anak yaitu,
1. Film
menyenangkan anak karena membawa mereka ke dunia manusia dan hewan yang
melakukan hal-hal yang mereka lakukan.
2. Anak
memperoleh kegembiraan yang tidak dapat diperolehnya dalam kehidupan
sehari-hari.
3. Anak
memperoleh gagasan yang dapat di pergunakan untuk bermain.
4. Film
menyediakan informasi tentang bagaimana bersikap dalam situasi sosial dan anak
menggunakan ini untuk meningkatkan penerimaan sosialnya.
5. Informasi
yang di dapat dari film mudah di ingat daripada yang mereka peroleh dari membaca buku cerita.
6. Film
menyediakan informasi tentang berbagai jenis orang yang tidak mempunyai
hubungan pribadi yang dekat dengan mereka.
7. Gambar
yang bergerak menimbulkan pengaruh emosional yang nyata pada anak. [28]
Milthon Chen,
Seorang pendidik terkemuka dari Public Broadcasting Service (PBS dan Direktur
Center for Education and Life Long Learning Dikoed San Fransisco, telah
menemukan sedikitnya 5 mitos tentang televisi dan anak-anak yaitu, :
1. Televisi
adalah medium pasif.
2. Televisi
menghambat pertumbuhan otak yang sehat. Televisi mengganggu gelombang otak
anak-anak .
3. Televisi
memperpendek rentang perhatian anak-anak.
4. Jika
menonton televisi, ia akan menjadi murid yang bodoh.
5. Jika
menonton televisi ia akan ia tidak akan menjadi pembaca yang baik.[29]
Penelitian yang
dilakukan oleh sejumlah ahli psikologi sosial pada tahun 1970- an menyimpulkan
bahwa menyaksikan tayangan kekerasan yang lama dapat menyebabkan dampak sebagai
berikut :
1. Kekerasan
mengajarkan perilaku agresif.
2. Menurunkan
kemampuan mengekang perilaku agresif, berkurangnya kepekaan dan menganggap
kekerasan hal biasa.
3. Tayangan
televisi membentuk kesan tentang realitas.[30]
Pengaruh dunia pertelevisian bagi sikap dan prilaku anak di antara
berbagai media massa, televisi memainkan peran yang terbesar dalam menyajikan
informasi yang tidak layak dan terlalu dini bagi anak-anak. Menurut para pakar
masalah media dan fsikologi, di balik keunggulan yang dimilikinya, televisi
berpotensi besar dalam meninggalkan dampak negatif di tengah berbagai lapisan
masyarakat, khususnya anak-anak. Memang terdapat usaha untuk menggerakan para
orang tua dan pendidik agar mengarahkan anak-anaknya untuk menonton program
atau acara yang di khususkan untuk mereka saja, namun pada prakteknya sedikit
sekali orang tua yang memperhatikan ini.
Setiap pendidik mempunyai kewajiban untuk selalu mengawasi anak-anak
nya dan perkembangannya, oleh sebab itu hal-hal kecil harus bisa di antisipasi
oleh setiap pendidik mengenai dampak positif atau negatif yang akan ditimbulkan
oleh hal yang bersangkutan. Begitu juga mengenai hal televisi ini yang sudah
nampak dampak negatifnya , sudah
sepatutnya setiap pendidik mempersiapkan senjata untuk mengantisipasinya.
Dari begitu banyak dampak yang di akibatkan oleh tontonan televisi,
ada beberapa hal yang bisa kita lakukan oleh setiap pendidik, yaitu:
1. Pilihlah acara yang sesui
dengan usia anak
Jangan biarkan
anak-anak menonton acara yang tidak sesuai dengan usianya, walaupun ada acara
yang memang untuk anak-anak, perhatikan dan analisa apakah sesuai dengan
anak-anak ( tidak ada unsur kekerasan, atau hal lainnya yang tidak sesuai
dengan usia mereka).
2.
Dampingi
dan awasi saat anak menonton TV
Bertujuan agar acara
televisi yang mereka tonton selalu terkontrol
dan orangtua bisa memperhatikan apakah acara tersebut masih layak atau
tidak untuk di tonton .
Tabel
8
Aku
selalu ditemani orangtuaku saat menonton TV
Jawaban
Responden
|
Frekuensi
|
Persen
|
||
Laki-laki
|
Perempuan
|
Laki-
laki
|
Perempuan
|
|
Ya
|
18
|
16
|
52,95%
|
40%
|
Kadang-kadang
|
7
|
15
|
20,58%
|
37,5%
|
Tidak
|
9
|
9
|
26,47%
|
22,5%
|
Total
|
34
|
40
|
100%
|
100%
|
Sumber : Pengolah dan Data
Quesioner
Setelah kami peroleh
data dari hasil Quesioner bisa kita lihat dalam tabel di atas bahwa sebagian
orang tua sebagai pendidik di rumah sebagian besar sudah menemani anaknya saat
menonton televisi sehingga orang tua dapat mengawasi acara apa saja yang di
tonton oleh anak-anaknya di rumah dan bisa menasihati anak-anaknya apabila
mereka menonton tayangan televisi yang seharusnya tidak di tonton oleh anak-
anak di bawah umur karena mempertimbangkan psikologis dan perkembangan anak tersebut.
Memberikan
penjelasan-penjelasan pada anak-anak apabila ada tayangan TV yang tidak sesuai.
Bertujuan untuk
mengantisipasi pada anak-anak hal yang salah arti dalam memahami suatu tayangan TV.
Tabel
9
Aku
lebih suka membaca dari pada menonton TV
Jawaban
Responden
|
Frekuensi
|
Persen
|
||
Laki-laki
|
Perempuan
|
Laki-
laki
|
Perempuan
|
|
Ya
|
27
|
33
|
79,4%
|
82,5%
|
Kadang-kadang
|
6
|
5
|
17,65%
|
12,5%
|
Tidak
|
1
|
2
|
2,95%
|
5%
|
Total
|
34
|
40
|
100%
|
100%
|
Sumber : Pengolah dan Data
Quesioner
Dari tabel diatas juga
di peroleh data sebagian besar siswa-siswa SDN PASIRBADAK lebih menyukai
membaca dari pada menonton, maka dari itu pihak sekolah sebaiknya memiliki
perpustakaan agar minat membaca siswa dapat tersalurkan, di rumah juga
sebaiknya orang tua memfasilitasi anaknya agar anaknya dapat membaca baik buku
pelajaran atau buku bergambar yang mempunyai nilai edukatif dan bermanfaat.
Dengan cara seperti itu dapat meminimalisir dampak negative yang di timbulkan
akibat tayangan televisi.
3.
Memberikan
pendidikan yang mengandung nilai-nilai Agama.
Nilai-nilai Agama yang
harus selalu di terapkan dan ditumbuhkan di rumah yaitu dengan cara
mengikutsertakan pendidikan keagamaan di luar jam sekolah, agar anak-anak kita
mendapat bekal nilai-nilai agama sehingga mampu berpikir jernih, punya rencana
dan masa depan yang baik. Apabila ditumbuh-kembangkan pendidikan agama kepada
anak-anaknya niscaya apapun informasi yang bersifat negatif yang datang dari
luar ataupun dari kecanggihan tekhnologi tidak akan berpengaruh bagi anak-anak
karena sudah memiliki bekal dan filter untuk menyerap atau menyaring
informasi-informasi yang sifatnya negatif.[31]
Sebagai seorang pendidik baik itu
orang tua atau guru di sekolah upaya yang dapat kita lakukan untuk mengurangi
dampak tayangan televisi terhadap anak dengan cara memberi kesibukan
diantaranya belajar sambil bermain di luar rumah atau ditaman atau di lapangan
agar anak merasa nyaman dan memberikan nilai yang positif bagi anak itu sendiri. Dengan cara memberikan
PR juga itu dapat member kesibukan anak pada hal yang positif, seperti hasil
yang telah kita peroleh dari responden siswa SDN PASIRBADAK dibawah ini :
Tabel 10
Aku
lebih suka mengerjakan PR dari pada menonton TV
Jawaban
Responden
|
Frekuensi
|
Persen
|
||
Laki-laki
|
Perempuan
|
Laki-
laki
|
Perempuan
|
|
Ya
|
31
|
37
|
91%
|
92,5%
|
Kadang-kadang
|
2
|
-
|
6%
|
-
|
Tidak
|
1
|
3
|
3%
|
7,5%
|
Total
|
34
|
40
|
100%
|
100%
|
Sumber : Pengolah dan Data
Quesioner
Dari data yang telah kami peroleh
dari responden diatas dapat di simpulkan dari tabel 10 ini ternyata anak-anak
lebih cenderung menyukai mengerjakan PR daripada menonton televisi dan hasilnya
pun sangat menakjubkan tenyata lebih dari 90% anak suka mengerjakan PR walaupun
masih ada sebagian kecil yang tidak suka mengerjakan PR. Sebaiknya kita sebagai
pendidik haruslah memberikan perhatian yang cukup untuk anak-anak kita salah
satu caranya dengan memberikan PR dan kesibukan lain disela-sela waktu
belajarnya.
Tabel
11
Orangtua
aku selalu melarang menonton TV
Jawaban
Responden
|
Frekuensi
|
Persen
|
||
Laki-laki
|
Perempuan
|
Laki-
laki
|
Perempuan
|
|
Ya
|
17
|
21
|
50%
|
52,5%
|
Kadang-kadang
|
5
|
12
|
14,7%
|
30%
|
Tidak
|
12
|
7
|
35,3%
|
17,5%
|
Total
|
34
|
40
|
100%
|
100%
|
Sumber : Pengolah dan Data
Quesioner
Dari
data tabel 11 diperoleh 50% sebagian dari orang tua siswa SD mereka melarang
anaknya untuk menonton tayangan televisi karena dikhawatirkan dampak negatif
dari tayangan televisi tersebut. Padahal sebaiknya lebih baik menemani dan
mengawasi daripada melarang karena apabila dilarang anak tersebut akan
penasaran dan bahkan memberontak. Sebaiknya dengan pendekatan psikologis antara
anak dan orang tua.
BAB V
Berdasarkan hasil
analisis dan Pembahasan dalam Bab sebelumnya, maka dapat ditarik beberapa
kesimpulan yang dimana Terdapat dampak positif dan negatif dari kebiasaan
menonton film kartun, yaitu, Dampak
Positifnya Seorang anak Sekolah dasar menirukan karakter dari tokoh yang di
idolakannya yang membuat daya imajinasi dari anak Sekolah dasar tersebut tinggi
dan daya fantasi anak terkontaminasi dari perilaku anak karena karakter film
kartun. Jika seorang anak mengidolakan karakter Superhero, maka menciptakan
karakter suka menolong. Dan dampak negatifnya Daya agresifitas seorang anak
sangat mudah terkontaminasi dari apa yang di tonton. ini tentunya sangat
mempengaruhi bagaimana sikap-sikap untuk memilih waktu mereka untuk belajar,
bermain diluar, menonton hal-hal yang mereka sukai saja, karena apa yang
menjadi kebiasaan akan terus mereka (anak-anak) pertahankan/perhatikan.
Sehingga menjadi lebih fokus pada siaran-siaran yang umumnya digemari
anak-anak.
Perilaku anak yang
menonton film kartun di SDN PASIRBADAK ternyata kadang-kadang siswanya menonton film kartun. Hal ini
mempengaruhi bagaimana sikap-sikap untuk memilih waktu mereka untuk belajar,
bermain diluar, menonton hal-hal yang mereka sukai saja, karena apa yang
menjadi kebiasaan akan terus mereka (anak-anak) pertahankan/perhatikan.
Sehingga menjadi lebih fokus pada siaran-siaran yang umumnya digemari
anak-anak.
5.2 Saran
1. Perlu
adanya perhatian orang tua terhadap anak, maka perlu diperhatikan hal yang signifikan
dengan perkembangan perilaku anak pada saat melihat siaran televisi terutama film kartun dan membimbing anak
untuk melihat hal-hal yang positif yang berguna bagi perkembangan pendidikan
fisik dan mental untuk bersikap lebih
baik,.
2. Perlunya
ketegasan Pemerintah membatasi film-film kartun yang berbaur kontak fisik dan
ucapan-ucapan kasar dan mengutamakan siaran film kartun yang dapat mendidik
anak-anak di usia dini.
·
Taylor, Shelley. 2009. “Psikologi Sosial”. Jakarta :
Kencana
·
Natadjaja, Listia.2009. pengaruh iklan untuk anak dibandingkan dengan film kartun televisi terhadap affektif anak (http://dgi-indonesia.com/wp-content/uploads/2009/05/dkv02040107.pdf
) Diperoleh : Sunday, January 13,
2013, 11:26:23 AM
·
http://www.google.co.id/url?sa=t&rct=j&q=pengaruh+identifikasi+siswa+sd+terhadap+tokoh+kartun&source=web&cd=1&cad=rja&ved=0CCgQFjAA&url=http%3A%2F%2Frepository.unhas.ac.id%2Fbitstream%2Fhandle%2F123456789%2F1727%2FP.R.O.P.O%2C.S.A.L%2520%2520k.U.docx%3Fsequence%3D4&ei=h0nvUPHPBMKekAWL6IGgDQ&usg=AFQjCNEKvWz354HDT7OmmRpiNkrIGJbG4g&bvm=bv.1357700187,d.bmk
. Sunday, January 13, 2013, 11:26:23 AM
·
Winataputra, Udin dkk.
2007. “Materi Pembelajaran IPS SD”. Jakarta : Universitas Terbuka.
·
Putra,
Syailendra.2009.“Anakku Bertingkah Seperti Sinchan”.Semarang : Pustaka
Widyamara
·
Andafalthafunnisa.2012.pengaruh
dunia pertelevisian. (blogspot.com) Diperoleh kamis 10-01-2013.Pukul 22.07
[3] http://annyeong-rara-imnida.blogspot.com/2011/11/pengertian-imitasi-identifikasi-sugesti.html kamis 28-02-2013. Pukul 11.03
[4] Winataputra, Udin dkk. Materi Pembelajaran IPS SD. Jakarta :
Universitas Terbuka. 2007. Hal.2.9-2.10
[5]http://annyeong-rara-imnida.blogspot.com/2011/11/pengertian-imitasi-identifikasi-sugesti.html minggu 03-03-2013 pukul 19.49
[6] Winataputra, Udin dkk. Materi Pembelajaran IPS SD. Jakarta :
Universitas Terbuka. 2007. Hal.2.10
[7] http://id.wikipedia.org/wiki/Sugesti
Kamis 28-02-2013.
Pukul 11.05
[8] Winataputra, Udin dkk. Materi Pembelajaran IPS SD. Jakarta :
Universitas Terbuka. 2007. Hal.2.10
[10] Winataputra, Udin dkk. Materi Pembelajaran IPS SD. Jakarta :
Universitas Terbuka. 2007. Hal.2.4-2.5
[11] http://sekaragengpratiwi.wordpress.com/2012/02/02/perilaku-sosial/ Kamis
28-02-2013. Pukul 11.10
[12] Winataputra, Udin dkk. Materi Pembelajaran IPS SD. Jakarta :
Universitas Terbuka. 2007. Hal.2.6
[13] Winataputra, Udin dkk. Materi Pembelajaran IPS SD. Jakarta :
Universitas Terbuka. 2007. Hal.2.8
[20] Desmita. “Psikologi Perkembangan”. Bandung : PT Remaja Rosdakarya.
2005. Hal. 130
[21] http://id.shvoong.com/social-sciences/education/2194868-prestasi-belajar-aspek-psikomotorik/ Minggu 03-03-2013. Pukul
19.46
[22] http://www.google.co.id/url?sa=t&rct=j&q=pengaruh+identifikasi+siswa+sd+terhadap+tokoh+kartun
Sunday, January 13, 2013, 11:26:23 AM
[24]
http://www.google.co.id/url?sa=t&rct=j&q=pengaruh+identifikasi+siswa+sd+terhadap+tokoh+kartun
Sunday, January 13, 2013, 11:26:23 AM
[26]Putra Syailendra. “ Anakku Bertingkah Seperti Sinchan “ 2009. Pustaka Widyamara Jawa tengah. Hal. 3-5
[27]Putra Syailendra. “ Anakku Bertingkah Seperti Sinchan “ 2009. Pustaka Widyamara Jawa tengah. Hal. 3-4
[28] Putra Syailendra. “ Anakku Bertingkah Seperti Sinchan “ 2009. Pustaka Widyamara Jawa tengah. Hal. 5
[29]Putra Syailendra. “ Anakku Bertingkah Seperti Sinchan “ 2009. Pustaka Widyamara Jawa tengah. Hal. 83
[30]Putra Syailendra. “ Anakku Bertingkah Seperti Sinchan “ 2009. Pustaka Widyamara Jawa tengah. Hal. 85
[31] Andafalthafunnisa.blogspot.com/2012/02/pengaruh dunia
pertelevisian.kamis 10-01-2013.Pukul 22.07
1.1 Latar
Belakang
1.3 Sistematika
Penulisan
2.5.2 Pengertian Sosialisasi
Psikologi sosial adalah cabang ilmu psikologi yang meneliti dampak atau
pengaruh sosial terhadap perilaku manusia. Bidang ini sangat luas,
mencakup berbagai bidang studi dan beberapa disiplin ilmu. Psikolgi sosial
juga digunakan dalam berbagai disiplin dan industri; banyak orang memanfaatkan
prinsip-prinsip psikologi sosial bahkan tanpa menyadari hal itu ketika
mereka mencoba untuk mengendalikan kelompok, pengaruh pendapat seseorang, atau
menjelaskan mengapa seseorang berperilaku dengan cara tertentu.[16]
Sikomotorik adalah kemampuan di
dalam masalah
skill atau keterampilan dan kemampuan bertindak. Prestasi belajar aspek
psikomotor ini merupakan tingkah laku nyata dan dapat di amati.[21]
2.8 Hipotesis
3.1 Waktu
dan lokasi Penelitian
3.2 Populasi
dan Sampel
3.3 Teknik Pengumpulan Data
4.3 Apa solusi yang dilakukan oleh pendidik mengenai dampak negatif yang
ditimbulkan dari tayangan televisi ?





0 komentar:
Posting Komentar