Pengaruh Imitasi
Pada Siswa SD Terhadap Tayangan
Televisi
Study Pada
Penayangan Film Kartun
Siswa SDN PASIRBADAK SUKABUMI

Diajukan
untuk memenuhi tugas Mata Kuliah Pendidikan IPS di SD 1
Disusun
Oleh :
YUQI YULISTIA (063161111145)
OKI OKTAVIANI (063161111138)
SITI NURJANAH (063161111139)
BIYAN REVANY (063161111132)
AKE MELANSYAH
(063161111165)
Prodi :
PGSD kelas D
UNIVERSITAS
MUHAMMADIYAH SUKABUMI
Jl.
R. S yamsudin, SH. No.50 Kota Sukabumi 43113
Tlp.
0266-218345, 218342 Fax.0266-218342
Email
: ummi@ummi.ac.id
website : www.ummi.ac.id
2013
Puji syukur kami panjatkan atas kehadirat
Allah SWT, sang Pencipta alam semesta, manusia, dan kehidupan beserta
seperangkat aturan-Nya, karena berkat limpahan rahmat, taufiq, hidayah serta
inayah-Nya, sehingga kami dapat menyelesaikan JURNAL ini dengan tema “Pengaruh
IMITASI pada siswa SD Terhadap Tayangan Televisi” yang sederhana ini dapat terselesaikan tepat
pada waktunya. Shalawat beserta salam semoga senantiasa tercurahkan kepada nabi
besar Muhammad SAW yang telah membawa manusia dari zaman Jahiliyah yang buta
terhadap ilmu ke zaman terang benderang yang sarat dengan indahnya ilmu
pengetahuan.
Maksud dan tujuan dari penulisan jurnal ini
tidaklah lain untuk memenuhi salah satu tugas dari mata kuliah Pendidikan IPS di SD I serta merupakan bentuk
langsung tanggung jawab kami pada tugas yang diberikan. Pada kesempatan ini,
kami juga ingin menyampaikan ucapan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu penyelesaian jurnal ini baik secara
langsung maupun tidak langsung.
Demikian pengantar yang dapat kami sampaikan
dimana kami pun sadar bawasannya kami hanyalah seorang manusia yang tidak luput
dari kesalahan dan kekurangan, sedangkan kesempurnaan hanya milik Allah SWT hingga dalam penulisan dan penyusunannya masih
jauh dari kata sempurna. Oleh karena itu, kritik dan saran akan senantiasa kami
terima dalam upaya evaluasi diri.
Akhirnya kami hanya bisa berharap, bahwa
dibalik ketidak sempurnaan penulisan dalam penyusunan jurnal ini adalah
ditemukannya sesuatu yang dapat memberikan manfaat atau bahkan hikmah bagi
penulis, pembaca, dan bagi seluruh mahasiswa UMMI khususnya program studi PGSD.
Amin ya Rabbal ‘alamin.
Sukabumi,
11 Januari 2013
Penulis
ABSTRAK
Penelitian ini dilakukan pada tahun 2013 selama
satu bulan yang mengungkap pengaruh imitasi siswa SD terhadap tayangan televisi
pada siswa SDN
PASIRBADAK Kp.Pasirbadak
Ds.Kebonmanggu Kec.Gunungguruh Kabupaten Sukabumi 43156. Penelitian ini menggunakan metode Kuantitatif dengan menggunakan metodelogi
Quesioner.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat pengaruh positif dan pengaruh negatif
akibat tayangan televisi apalagi kartun yang menjadi film favorit siswa-siswa
SD.
Pengaruh imitasi siswa SD terhadap
tayangan televisi, pada data penelitian yang kami lakukan di SD Pasirbadak
bahwa dari 203 siswa kami mengambil sampel 74 anak, yaitu 40 anak perempuan dan
34 anak laki-laki. Pada anak perempuan 50% anak-anak menjawab bahwa setiap hari
anak menonton televisi setiap hari yaitu 20 anak dari sampel yang kami amati,
47,5% menjawab kadang-kadang yaitu 19 anak dan 2,5% yaitu seorang anak menjawab
tidak selalu menonton televisi. Film kartun adalah tayangan yang selalu di
tonton atau menjadi favorit anak-anak 90% anak-anak yang kami amati menjawab
tidak yaitu sebanyak 36 anak dan 10% menjawab tidak yaitu 4 anak. 82,5% anak
menjawab iya pada pertanyaan anak ingin menjadi seperti tokoh dalam kartun yang
disukai yaitu 33 anak, 10% menjawab kadang-kadang yaitu 4 anak dan 7,5%
menjawab tidak yaitu 3 anak . Pada partanyaan anak selalu meniru apa yang
ditonton di TV 45% menjawab iya yaitu 18 anak, 25% menjawab kadang-kadang yaitu
10 anak. 30% menjawab tidak yaitu 12 anak. Orangtua selalu melarang menonton TV
pada pertanyaan ini 52,5% anak menjawab iya yaitu 21 anak. 30% menjawab
kadang-kadang yaitu 12 anak 17,5% menjawab tidak yaitu 7 anak.
DAFTAR ISI
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Di dalam keseharian kita seringlah kita
tidak menyadari bahwa sering kali kita meniru segala sesuatu yang ada d sekitar
kita. Pada siswa SD khususnya, mereka selalu meniru apa yang mereka lihat dan
menurut mereka menarik untuk ditiru, sehingga banyak sekali anak-anak pada
khususnya berperilaku yang tidak sesuai dengan usianya bahkan cenderung bersikap
negatif apabila tidak dilakukan oleh pengawasan dari orang tua/guru dan
keluarga terdekatnya. Pada era globalisasi saat ini, merupakan suatu perubahan
zaman yang berkembang pesat, yang dimana teknologi yang berkembang yang semakin
canggih satu diantaranya adalah televisi. Dengan berbagai tayangan yang disajikan
dan dikemas secara menarik.
Televisi juga merupakan media elektronik
visiual yang mampu menyebarkan berita secara cepat dan mencakup jumlah yang
banyak tidak dapat dipungkiri bahwa banyak sekali manfaat dari penanganan acara
televisi namun di sisi lain juga seimbang dengan dampak negatifnya. Televisi
yang salah satu media elektronik yang hampir seluruh lapisan masyarakat dapat
menikmatinya Media ini menyediakan informasi baik berita, pengetahuan, maupun
hiburan yang dapat dinikmati oleh masyarakat secara bebas. apalagi anak-anak
yang masih d bawah umur yang masih butuh pengawasan dari orang tuanya.
Hasil dari pemerolehan informasi
tersebut dapat berupa pengetahuan, perilaku, dan pemikiran yang telah
terkontaminasi. Dari proses saling mempengaruhi tersebut diinterpretasikan
dalam bentuk bahasa dan tingkah laku seseorang. Fenomena ini sangat terlihat
jelas pada perilaku berbahasa anak-anak.
Acara televisi untuk anak-anak begitu
banyak jumlahnya dan ditayangkan hampir setiap waktu dari pagi hari bahkan sampai
larut malam oleh berbagai stasiun televisi. Berbagai jenis film kartun televisi
telah mempesona anak-anak dan menyedot sebagian besar waktu dan perhatiannya.
Bahkan mereka memilih menonton televisi dibanding bermain dengan teman
sebayanya. Tentu hal ini akan sangat menentukan perilaku anak, baik dalam
pembentukan karakter maupun perilaku bahasanya.
Jenis tayangan media televisi khususnya
acara televisi untuk anak-anak tersebut akan terekam dalam pikiran anak dan
sekaligus dapat mempengaruhi perilaku anak dalam kesehariannya.
1.2 Rumusan
Masalah
Dalam jurnal ini yang akan dibahas
adalah mengenai Pengaruh imitasi siswa
sd terhadap tayangan televisi. Permasalahan yang akan dibahas dalam isi jurnal ini yaitu:
1. Bagaimana pengaruh imitasi siswa SD terhadap tayangan
televisi ?
2. Apa saja dampak yang ditimbulkan dari tayangan
televisi terhadap
perilaku siswa?
3. Apa solusi yang dilakukan oleh pendidik mengenai dampak
negatif yang ditimbulkan dari tayangan televisi khususnya
film kartun ?
1.3 Sistematika
Penulisan
Jurnal ini terdiri dari 5
a) BAB I adalah Pendahuluan, yang
terdiri dari Latar Belakang, Rumusan Masalah, Sistematika Penelitian, dan Manfaat Penelitian
b) BAB II Review Literature, dari beberapa sumber buku dan
internet yang telah kami baca yang berisi pengertian atau definisi dari apa
yang akan kami bahas dalam jurnal ini.
c) BAB III Metodologi Penelitian terdiri dari waktu dan
lokasi penelitian, populasi dan sampel, teknik pengumpulan data, teknik analisa
data dan questioner.
d) BAB IV Pembahasan tentang rumusan masalah yang telah
kami ajukan dalam bab sebelumnya dalam jurnal ini
e) BAB V Penutup yang berisikan Kesimpulan dan Saran. Sebagai pertanggung
jawaban disertakan pula Daftar Pustaka
1.4
Manfaat Penelitian
1. Bagi
Peneliti
Dapat menambah wawasan dan pengalaman peneliti tentang
pembuatan jurnal terhadap pengaruh imitasi siswa
SD terhadap tayangan televisi
2.
Institusi Pendidikan
Hasil
penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai dasar untuk lebih mengerti
tentang pengaruh imitasi siswa SD terhadap tayangan televisi sehingga guru
pengajar di sekolah tersebut dapat membantu dan membimbing siswa agar tidak
berdampak negatif atas pengaruh imitasi siswanya terhadap tayangan yang
disiarkan statiun televisi.
3.
Bagi Responden
Hasil
penelitian ini diharapkan dapat memberikan gambaran tentang persepsi pengaruh
imitasi siswa SD terhadap tayangan televisi. Hasil penelitian ini juga dapat
dijadikan bahan bacaan bagi yang memerlukan dan sebagai bahan pertimbangan
untuk penelitian yang akan datang.
BAB II
REVIEW LITERATURE
2.1 Pengertian Imitasi
Kata imitasi memiliki arti secara
hafiah yakni “TIRUAN”, di samping merupakan suatu konsep. Imitasi dapat terjadi
apabila seseorang melakukan tindakan peniruan secara sadar atau tidak terhadap
perilaku orang lain.Misalnya seorang anak yang berperilaku seperti orang
tuanya. Proses imitasi dapat bersifat positif dan dapat menimbulkan hal-hal
yang bersifat negatif. Bersifat positif jika tidak bertentangan dengan kaidah
dan dapat mendorong seseorang untuk mematuhi serta mempertahankan kaidah tersebut,
sedangkan bersifat negatif jika yang ditiru merupakan tindakan-tindakan yang
menyimpang. [1]
2.2
Pengertian Identifikasi
Identifikasi
yaitu merupakan kecenderungan atau keinginan-keinginan dalam diri seseorang
untuk menjadi identik dengan orang lain, yang menjadi idolanya. Identifikasi
secara sederhana dapat diartikan sebagai proses menyamakan diri terhadap orang
lain, yang dapat dilakukan melalui imitasi atau sugesti misalnya, seorang
remaja yang memiliki idola, seorang penyanyi maka ia akan berusaha menyamakan
dirinya dengan idolanya tersebut misalnya dengan meniru model rambut atau
pakaiannya tanpa berpikir secara rasional. [2]
2.3
Pengertian Sugesti
Sugesti
merupakan suatu proses penanaman gagasan, pandangan atau perasaan ke dalam
pikiran seseorang dan diterimanya tanpa melalui pemikiran yang kritis. Sugesti
cepat terjadi pada orang yang mengalami stress, mengalami tekanan atau
kemampuan berpikirnya lemah sehingga mudah menerima pandangan yang berasal dari
orang lain. Sedangkan pelaku sugesti akan cepat berhasil jika ia berada pada
posisi yang menentukan, memiliki kekuatan dan kekuasaan. Misalnya, orangtua
otoriter yang menerapkan berbagai perintah dan larangan kepada anaknya sehingga
diterimanya secara dogmatis. [3]
2.4
Pengertian simpati
Suatu
proses dimana seseorang merasa tertarik kepada pihak lain, yang lebih didorong
oleh perasaannya dan bersifat subjektif dinamakan simpati. Misalnya, seseorang
memilih melihat orang lain dan langsung tertarik padahal sebelumnya tidak
pernah bertemu.[4]
2.5
Pengertian perilaku sosial
Perilaku
erat kaitannya dengan kepribadian, yang terbentuk melalui sosialisasi semenjak
masa kanak-kanak sampai usai tua sehingga menjadi ajang pembinaan kepribadian
(personality building) bagi seseorang. Sosialisasi dan kepribadian akan
membentuk sistem perilaku (behavior system), dimana perilaku tersebut harus
menyesuaikan dengan kaidah yang berlaku (conformity), tetapi seiring terjadi
perilaku yang menyimpang (deviation) yang dapat memicu terjadinya perubahan
sosial.[5]
2.6
Pengertian tindakan sosial
Tindakan
sosial adalah tindakan individu yang diarahkan pada orang lain dan memiliki
arti, baik bagi diri si pelaku maupun bagi orang lain. Dalam tindakan sosial
mengandung tiga konsep, yaitu tindakan, tujuan dan pemahaman. Ciri-ciri dari
tindakan sosial adalah : tindakan memiliki makna subjektif, tindakan nyata yang
bersifat membatin dan bersifat subjektif, tindakan berpengaruh positif,
tindakan diarahkan pada orang lain dan tindakan merupakan respons terhadap
tindakan orang lain. Berdasarkan tingkat pemahamannya, te3rdapat rasionalitas
instrument. Rasionalitas berorientasi pada nilai dan tindakan afektif serta
tindakan tradisional.[6]
2.7
Pengertian Interaksi sosial
Interaksi
sosial merupakan prasyarat terbentuknya masyarakat karena melalui interaksi
tersebut akan terjalin hubungan antarindividu dan individu dengan kelompok
serta hubungan antar kelompok, yang ditandai dengan adanya hubungan timbale
balik antara pihak yang berinteraksi. Terjadinya interaksi sosial di perlukan
interaksi sosial dan komunikasi. Iimitasi, sugesti, identifikasi dan simpati
merupakan factor yang dapat melangsungkan interksi sosial.Dalam kehidupan
sehari-hari ditemui dua bentuk interaksi sosial, yaitu yang bersifat asosiatif
dan disosiatif. Bentuk interaksi sosial yang bersifat asosiatif adalah
kerjasama (cooperative) dan akomodasi (accommodation) sedangkan yang termasuk
kedalam bentuk disosiatif yaitu persaningan (competition), kontrafensi
(controfetion) dan pertentangan (conflict).[7]
2.8
Pengertian Psikologi Sosial
Pengertian
psikologi sosial adalah studi ilmiah terhadap bagaimana orang berpikir, mempegaruhi dan berhubungan dengan orang lain. Psikolog sosial
sering menekankan pada kekuatan situasi sosial langsung dalam memengaruhi
perilaku.
Teoritis utama dalam psikologi sosial adalah, teori motivasi,
teori belajar, teori kognitif, teori pengambilan keputusan dan teori
independensi. [8]
2.9
Pengertian Sosialisasi
Sosialisasi adalah proses yang dijalani anak dalam belajar norma sosial
konvensional di sekitar mereka. [9]
Menurut Maccoby dan jacklin teori Sosialisasi
terdiri dari sebagai berikut:
1. Teori Imitasi,
mengenal indentifikasi awal seorang anak terhadap anggota keluarga yang jenis
kelaminnya sama dengannya, dengan menirukan tingkah laku tertentu orang dewasa.
Anak akan mengidentifikasikan dirinya dengan orangtuanya yang berjenis kelamin
sama dengannya.
2. Self-socialization,
dalam teori ini anak akan berusaha mengembangkan konsep tentang dirinya. Dan
juga mengembangkan konsep suatu pengertian tentang apa yang harus dilakukan
bagi jenis kelamin yang bersangkutan.
3. Teori
Reinforcement, menekankan penggunaan saksi berupa hukuman atau penghargaan. Hal
ini akan mendorong anak bertingkah laku sesuai dengan jenis kelaminnya. Sanksi
yang diberikan oleh keluarga ataupun orang dewasa lainnya.
2.10
Perkembangan Anak
Piaget dalam penelitiannya mengenai
perkembangan anak mengemukakan bahwa perkembangan anak dibagi menjadi tiga
yaitu : perkembangan kognitif, psikomotorik dan affektif (Gunarsa, 1997: 136).[10]
2.11 Pengertian
Kognisi dan Intelegensi
Kognisi adalah pengertian yang luas
mengenai berpikir dan mengamati, jadi tingkah laku-tingkah laku yang
mengakibatkan orang memperoleh pengetahuan atau yang dibutuhkan untuk
menggunakan pengetahuan.
Secara historis, afeksi tersebut dibedakan
dari kognisi (cognition, pengenalan) dan volisi atau kemauan (volition)
dan (titchener) kesenangan dan ketidaksenangan. Definisi lain dari
affektif adalah kemampuan mengolah kepekaan rasa dan emosi berdasarkan suatu
kebenaran yang relatif. Dari ketiga perkembangan anak yang dikemukakan oleh
Piaget, perkembangan affektiflah yang dapat secara langsung berpengaruh pada
anak.
Sesuai dengan teori kognitif
Piaget, maka perkembangan kognitif pada masa awal anak-anak dinamakan tahap
praoperasional (praoperational stage), yang berlangsung dari usia 2-7 tahun.
Pada tahap ini, konsep yang stabil dibentuk, penalaran mental muncul,
egosentrisme mulai kuat dan kemudian melemah, serta terbentuknya keyakinan
terhadap hal yang magis. Tetapi, sebagai “pra” dalam istilah “praoperasional”,
menunjukkan bahwa pada tahap ini teori Piaget difokuskan pada keterbatasan
pemikiran anak. Istilah “operasional” menunjukkan pada aktivitas mental yang
memungkinkan anak untuk memikirkan peristiwa-peristiwa atau
pengalaman-pengalaman yang dialaminya.
Pemikiran praoperasional tidak lain
adalah suatu masa tunggu yang singkat bagi pemikiran operasional, sekalipun
label “praoperasional” menekankan bahwa anak pada tahap ini belum berpikir
secara operasional.[11]
Sedangkan definisi intelegensi adalah
suatu kecakapan global atau rangkuman kecakapan seseorang untuk dapat bertindak
secara terarah, berfikir secara baik dan bergaul dengan lingkungannya secara
efisien menurut Wechsler (dalam Gunarso, 1997).
2.12
Pengertian Psikomotorik
Psikomotorik adalah ketrampilan untuk
menggunakan organ-organ tubuh, suatu kegiatan organ-organ tubuh seperti otot,
syaraf dan kelenjar. Sedang affektif (afek, afeksi), kasih sayang, cinta adalah
perasaan yang sangat kuat, satu kelas yang luas dari proses-proses mental, termasuk
perasaan emosi, suasana, hati dan temperamen.[12]
2.13
Definisi dampak
Menurut Otto Soemarwonto (1989;4)
Dampak adalah suatu perubahan yang terjadi sebagai akibat suatu aktifitas dan
aktifitas itu dapat dilakukan oleh manusia yang mengarah kepada perubahan dalam
kehidupan manusia itu sendiri.
Dampak dapat berwujud dalam bentuk
positif, yaitu berguina bagi yang menerima dampak tersebut, dan bisa berdampak
negatif bila hal itu mengurangi atau merendahkan martabat dari yang menerima
dari dampak tersebut. [13]
2.14
Definisi Adegan
Menurut Ciu cahyono, adegan adalah
kejadian dalam kerangka fiksi yang didalamnya terdapat laku atau tutur dari
tokoh-tokoh cerita, yang terbingkai dalam suatu setting waktu dan setting
tempat.
Adegan dapat diartikan sebagai
bagian babak dalam lakon sandiwara, film atau sinetron. Adegan kekerasan dalam
yang ditayangkan dalam film atau sinetron dapat mempengaruhi kejiwaan
seseorang.[14]
2.15
Hipotesis
Berdasarkan Rumusan Masalah pada
Bab I dan Bab II Review Literature,
ada kecenderungan anak lebih mudah
meniru dari apa yang sering mereka lihat, tidak terkecuali tayangan televisi. Dan
anak akan menjadi apa yang seperti dia inginkan setelah dia melihat tayangan
yang ada di televisi dan menirunya. Pada dasarnya anak sadar bahwa menonton televisi
tidak ada manfaatnya akan tetapi anak tetap kecanduan menonton tayangan
televisi dan anak selalu ingin menonton televisi.
Menurut pengamatan
kami pada anak-anak di lingkungan keluarga mereka selalu meniru film kartun
yang mereka tonton dan mengimplementasikannya dalam kehidupan sehari-hari di
kejadian yang nyata, seperti perilaku anak-anak yang suka berkelahi menggunakan
jurus yang ada di film-film kartun yang dia lihat padahal berkelahi seperti itu
dapat membahayakan dia dan orang-orang disekitar mereka tanpa mereka sadari hal
itu.
BAB III
METODOLOGI
3.1
Waktu dan lokasi Penelitian
1. Waktu
Penelitian
Penelitian ini direncanakan selama
kurung lebih satu bulan yaitu dimulai pada bulan Januari sampai bulan Februari,
tahun 2013.
2. Lokasi
penelitian
Lokasi penelitian ini mengambil lokasi
di SDN PASIRBADAK, Kp.Pasirbadak Ds.Kebonmanggu Kec.Gunungguruh Kabupaten Sukabumi
43156. Dengan
alasan, karena anak siswa Sekolah Dasar lebih cenderung menirukan apa saja yang
ada di tayangan televisi apalagi tokoh kartun dan adegan yang ada di film
kartun tersebut.
3.2
Populasi dan Sampel
Populasi dan sampel
a. Populasi
Populasi dalam penelitian ini yaitu
siswa SDN PASIRBADAK Kp.Pasirbadak Ds.Kebonmanggu Kec.Gunungguruh Kabupaten Sukabumi
43156.
Tabel 1. Populasi Siswa SDN PASIRBADAK
|
No
|
Kelas
|
Laki-Laki
|
Perempuan
|
Jumlah
|
|
1
|
I
|
20
|
21
|
41
|
|
2
|
II
|
6
|
20
|
40
|
|
3
|
III
|
23
|
19
|
42
|
|
4
|
IV
|
18
|
17
|
35
|
|
5
|
V
|
15
|
12
|
27
|
|
6
|
VI
|
17
|
15
|
32
|
|
Total Keseluruhan
|
96
|
107
|
203
|
|
Sumber : Ibu Wiwi Juwita L S.Pd.SD
(Guru Kelas SDN Pasirbadak)
b. Sampel
Sampel adalah sebagian dari
populasi yang akan diteliti dan dianggap dapat mewakili seluruh populasi
(Notoadmojo, 2005). Sampel yang akan diambil adalah siswa/siswi di SDN PASIRBADAK tahun 2013
yang hadir selama waktu penelitian
dan memenuhi kriteria inklusi..
a) Jumlah
Sampel
Menentukan jumlah sampel suatu
penelitian tergantung pada dua hal yaitu pertama adanya sumber-sumber yang
dapat digunakan untuk menentukan batas maksimal dan dari besarnya sampel. Kedua
kebutuhan dari rencana analisis yang menentukkan batas minimal dari besarnya
sampel ( Notoatmodjo, 2005).
Rumus pengambilan sampel :
n
= 

Berdasarkan perhitungan di atas dari jumlah
populasi sebanyak 203 orang dengan nilai
presisi mutlak dan tingkat
kepercayaan 90 % didapatkan jumlah sampel sebanyak 67 orang. Untuk mencegah kesalahan data, maka peneliti
menambahkan 10% dari jumlah sampel minimal sehingga total sampel yang peneliti
ambil berjumlah :
b)
Kriteria
1) Kriteria inklusi
a)
Siswa/siswi di SDN
PASIRBADAK SUKABUMI tahun 2013 yang hadir di sekolah
b)
Siswa/siswi yang bersedia untuk menjadi responden
2) Kriteria ekslusi
Siswa/siswi yang tidak masuk sekolah pada saat pengumpulan data.
3.3 Teknik Pengumpulan Data
Dalam hal ini, kami membagikan
daftar pertanyaan kepada responden yang dianggap dapat mewakili untuk
memberikan informasi yang baik dan akurat. Pengumpulan
data dilakukan dengan cara membagikan kuesioner kepada 74 responden yang telah dipersiapkan oleh peneliti,
kemudian kuesioner dikumpulkan oleh peneliti setelah selesai diisi oleh
responden.
1.
Instrument / alat
penelitian
Instrument yang
digunakan dalam pelaksanaan penelitian adalah :
a.
Quesioner
Teknik angket
adalah salah satu cara untuk mengumpulkan data atau informasi dengan menggunakan serangkaian
pertanyaan yang diajukan kepada responden secara tertulis. Quesioner dibuat dengan menggunakan skala Linkert untuk pernyataan
positif dengan nilai Iya = 3, Kadang-Kadang = 2,
Tidak = 1. Sedangkan untuk pernyataan
bersifat negatif dengan
nilai Iya = 1, Kadang-Kadang= 2, dan Tidak = 3.
b. Alat
tulis
Alat
tulis yang digunakan adalah pensil atau pulpen untuk mencatat hasil pengumpulan
data.
c. Komputer
Komputer
digunakan untuk mengolah data setelah data dari responden terkumpul.
3.4
Teknik Analisa Data.
Teknik analisa data yang digunakan
dalam penelitian ini dianalisis secara kuantitatif dengan menggunakan tabel
frekuensi, kemudian diuraikan dalam bentuk penjelasan.
QUESIONER
Pengaruh Imitasi Siswa
SD Terhadap Tayangan Televisi
Dalam
rangka memenuhi mata perkuliahan Pendidikan
IPS di SD 1 dalam tugas pembuatan Jurnal , kami selaku mahasiswa Universitas
Muhammadiyah Sukabumi (UMMI) Jurusan Pendidikan
Guru Sekolah Dasar memohon kesediaan
Anda untuk mengisi beberapa pertanyaan di bawah ini.
Petunjuk Pengisian :
1.
Jawablah pertanyaan
dibawah ini dengan cara menceklis (√) pilihan :
Iya (Y)
Kadang-kadang (K)
Tidak (T)
2.
Jika
dalam pengisian Anda mengalami hambatan atau kurang mengerti Anda dapat
bertanya pada peneliti.
3.
Jawablah
pertanyaan-pertanyaan yang diberikan sesuai dengan apa yang Anda rasakan,
tanpa rekayasa dan benar adanya karena besar manfaat yang akan Anda ketahui
dari hasil jawaban Anda.
No. Responden :
Nama :
Umur :
Kelas :
Jenis Kelamin :
|
No.
|
Pertanyaan
|
Y
|
K
|
T
|
|
1.
|
Aku
selalu menonton TV setiap hari
|
|
|
|
|
2.
|
Film
kartun adalah film favorit aku
|
|
|
|
|
3.
|
Aku
ingin seperti tokoh dalam kartun yang aku sukai
|
|
|
|
|
4.
|
Aku
selalu meniru apa yang saya tonton di TV
|
|
|
|
|
5.
|
Orangtua
aku selalu melarang menonton TV
|
|
|
|
|
6.
|
Tontonan
TV mengganggu belajar aku
|
|
|
|
|
7.
|
Aku
selalu ditemani orang tuaku saat menonton TV
|
|
|
|
|
8.
|
Aku
lebih suka membaca daripada menonton TV
|
|
|
|
|
9.
|
Apakah
nonton TV ada manfaatnya untuk kamu ?
|
|
|
|
|
10.
|
Aku
lebih suka mengerjakan PR daripada menonton TV
|
|
|
|
Berilah tanda ceklis (√)
pada kolom yang sesuai pilihan kamu !
Keterangan :
Y
: Ya
K
: Kadang-kadang
T
: Tidak
BAB
IV
PEMBAHASAN
4.1
Bagaimana Pengaruh Imitasi Siswa SD Terhadap Tayangan Televisi ?
Mengingat daya khayal dan daya
serap anak-anak relatif dalam mengadaptasi adegan-adegan yang disajikan dalam berbagai
tayangan televisi, maka adegan-adegan itu akan tertinggal dan membekas dalam
diri anak yang selanjutnya akan mempengaruhi perilakunya.
Sesuai perkembangannya, mulai umur
7-8 tahun anak mulai kritis terhadap lingkungannya dan membutuhkan penjelasan
konkret serta masuk akal.
Maraknya acara televisi
untuk anak terutama yang dikemas dalam bentuk film kartun cukup menarik
perhatian anak namun sekaligus keprihatinan orang tua. Seiring dengan banyaknya
film-film kartun yang ditayangkan utamanya dari Jepang dan Amerika sehingga
dapat mempengaruhi perkembangan anak yang pada hakikatnya mereka meniru apa
yang dia lihat tanpa memikirkan mana yang baik dan mana yang buruk seperti
hasil data questioner yang telah kami teliti seperti dibawah ini :
Tabel
2
Aku
Selalu Menonton TV Setiap Hari
|
Jawaban
Responden
|
Frekuensi
|
Persen
|
||
|
Laki-laki
|
Perempuan
|
Laki-
laki
|
Perempuan
|
|
|
Ya
|
24
|
20
|
70,5%
|
50%
|
|
Kadang-kadang
|
10
|
19
|
29,5%
|
47,5%
|
|
Tidak
|
-
|
1
|
-
|
2,5%
|
|
Total
|
34
|
40
|
100%
|
100%
|
Sumber : Pengolah dan Data
Quesioner
Dengan demikian dari data tabel 2 dapat
dipastikan seluruh responden yang diteliti menghabiskan waktu menonton siaran
televisi setiap harinya sehingga dengan berbagai tayangan televisi yang
bermacam-macam. Dari data tersebut dapat disimpulkan bahwa anak-anak telah
banyak menonton tayangan televisi dengan adegan yang bermacam-macam sehingga
anak-anak meniru adegan apa yang telah dia lihat/tonton.
Tabel
3
Film
Kartun adalah Film favorit aku
|
Jawaban
Responden
|
Frekuensi
|
Persen
|
||
|
Laki-laki
|
Perempuan
|
Laki-
laki
|
Perempuan
|
|
|
Ya
|
30
|
36
|
88,25%
|
90%
|
|
Kadang-kadang
|
2
|
-
|
5,88%
|
-
|
|
Tidak
|
2
|
4
|
-
|
10%
|
|
Total
|
34
|
40
|
100%
|
100%
|
Sumber : Pengolah dan Data
Quesioner
Dari data tabel 3
diatas diperoleh data bahwa lebih dari 80% anak-anak yang menjadi
sampel penelitian film favorit mereka adalah kartun dengan berbagai jenis film
kartun yang terkadang film kartun tersebut menceritakan suatu hal yang tidak
sesuai dengan usia anak-anak. Terkadang banyak juga adegan kekerasan seperti
berkelahi yang dapat memicu anak untuk berkelahi dalam kehidupan sehari-hari
mereka, sehingga dapat membahayakan anak itu sendiri dan orang lain
disekitarnya.
Tabel 4
Aku
ingin seperti tokoh dalam kartun yang aku sukai
|
Jawaban
Responden
|
Frekuensi
|
Persen
|
||
|
Laki-laki
|
Perempuan
|
Laki-
laki
|
Perempuan
|
|
|
Ya
|
28
|
33
|
82,35%
|
82,5%
|
|
Kadang-kadang
|
1
|
4
|
2,95%
|
10%
|
|
Tidak
|
5
|
3
|
14,7%
|
7,5%
|
|
Total
|
34
|
40
|
100%
|
100%
|
Sumber : Pengolah dan
Data Quesioner
Dari data tabel 4 dapat disimpulkan dari data yang telah kami
peroleh bahwa lebih dari 80% anak yang menjadi sampel penelitian kami ingin seperti tokoh
yang mereka sukai. Hal seperti ini menjadi perhatian lebih bagi kami sebagai peneliti
karena meniru tokoh yang ada di dalam kartun mengandung hal positif dan hal
negatifnya.
Tabel 5
Aku
selalu meniru apa yang saya tonton di TV
|
Jawaban
Responden
|
Frekuensi
|
Persen
|
||
|
Laki-laki
|
Perempuan
|
Laki-
laki
|
Perempuan
|
|
|
Ya
|
15
|
18
|
44,11%
|
45%
|
|
Kadang-kadang
|
9
|
10
|
26,47%
|
25%
|
|
Tidak
|
10
|
12
|
29,42%
|
30%
|
|
Total
|
34
|
40
|
100%
|
100%
|
Sumber : Pengolah dan Data
Quesioner
Dengan data yang tabel 5 diatas dapat disimpulkan lebih
dari 40%
bahwa anak-anak selalu meniru apa saja yang mereka tonton/lihat ditelevisi.
Sebagian besar dari mereka meniru adegan yang menurut mereka menarik dan
menyenangkan untuk ditiru, padahal sebaiknya mereka memilih terlebih dahulu hal
yang positifnya baru mereka menirunya tapi disini mereka meniru semua apa yang
mereka lihat tanpa memikirkan dampak negatif yang dihasilkan dari meniru
tersebut.
4.2 Apa
saja dampak yang ditimbulkan dari tayangan
televisi terhadap perilaku siswa
?
Dampak
yang diakibatkan akibat imitasi siswa SD terhadap tayangan televisi diantaranya
ketika anak meniru perilaku kekerasan seperti berkelahi yang dapat membahayakan
dirinya sendiri dan orang lain yang berada di sekitarnya.
Dampak Televisi Terhadap Anak-anak
Televisi mempunyai dampak-dampak sendiri terhadap anak-anak. Disadari ataupun tidak sebagian besar prilaku
anak-anak zaman sekarang banyak dipengaruhi oleh media elektronik, terutama
televisi. Berikut adalah dampak nyata yang bisa kita lihat sehari-hari.
1. Sikap
·
Ingin mendapatkan atau
muatan mencapai sesuatu selekas mungkin (instanly). Di layar televisi, gambar
berlangsung cepat. Gaya televisi memang mengharuskan kecepatan itu. Segalanya
serba seketika. Hitungan yang berlaku dalam penayangan televisi adalah detik.
·
Kurang menghargai
Proses. Sebagai lanjutan dari ingin cepat mencapai sesuatu, anak-anak menjadi
kurang menghargai bahkan di sana sini ingin mengabaikan, kalau bisa segala
sesuatu ada jalannya. Ada awal dan ada proses, timbul kecenderungan ingin
mendapatkan sesuatu lewat jalan pintas.
·
Kurang dapat membedakan
khayalan dengan kenyataan.
2. Perilaku
·
Peniruan perbuatan
kekerasan dan negatif lainnya.
3. Pendidikan
·
Menyita waktu,
mengurangi minat dan perhatian untuk
belajar.
·
Menyaingi minat untuk
membaca.
4. Nilai
dan Agama
·
Mengaburkan nilai-nilai
agama dan sosial dalam hal etika, kesopanan dan susila.
·
Mengorbankan semangat
keduniaan
5. Budaya
·
Mendorong kekaguman
yang berlebih kepada kebuadayaan barat dan mengurangi perhatian terhadap
identitas Nasional.
Tabel
6
Apakah
nonton TV ada manfaatnya untuk kamu?
|
Jawaban
Responden
|
Frekuensi
|
Persen
|
||
|
Laki-laki
|
Perempuan
|
Laki-
laki
|
Perempuan
|
|
|
Ya
|
11
|
13
|
32,35%
|
32.5%
|
|
Kadang-kadang
|
4
|
4
|
11,75%
|
10%
|
|
Tidak
|
19
|
23
|
55,9%
|
57,5%
|
|
Total
|
34
|
40
|
100%
|
100%
|
Sumber : Pengolah dan Data
Quesioner
Dari data tabel 6 yang diperoleh dari questioner kepada
siswa SD kelas I - VI di SDN PASIRBADAK dapat kita memperoleh bahwa hampir 33% anak laki-laki menjawab ada manfaatnya dan hampir sama anak perempuan juga menjawab ada manfaatnya, tetapi lebih banyak siswa yang menjawab bahwa menonton televisi itu tidak ada manfaatnya. Maka dapat kita
simpulkan bahwa mereka
menyadari menonton televisi itu tidak ada manfaatnya apabila tayangan yang kita tonton itu memberikan
manfaat yang baik tetapi tayangan televisi itu juga dapat menimbulkan dampak
yang negatif apabila tanyangan tersebut tidak mendidik bahkan menjerumuskan
kedalam hal-hal yang tidak baik. Pengaruh positif dan negatifnya kita uraikan
seperti dibawah ini :
Pengaruh Positif
Televisi
Meskipun sebagian besar
masyarakat berpendapat bahwa televisi mempunyai pengaruh yang negatif tetapi
banyak juga dampak positifnya apabila kita manfaatkan dengan baik, contohnya kita
dapat mengambil pelajaran dari film-film yang mempunyai pesan-pesan
Dampak positif
dari televisi
Media televisi dituding oleh banyak
pihak sebagai biyang keladi dari banyak kerusakan moral yang terjadi di tanah
air kita ini. Namun disamping semua dampak negatif tersebut, kita masih bisa
menemukan dampak positif dari televisi, di antaranya adalah:
1. Memperluas
wawasan dan cakrawala pengetahuan
2. Menyebarkan
informasi dari satu daerah ke daerah lain secara cepat.
3. Media
hiburan dan rekreasi pikiran
4. Mempercepat
proses kemajuan tekhnologi diNegara kita
Pengaruh Negatif televisi
Selain ada dampak positif televisi
juga memiliki dampak negatif apalagi dampak negatif terhadap anak-anak yang
terganggu saat belajar karena tayangan film di televisi yang lebih menarik dan
menyenangkan dibandingkan belajar atau mengerjakan PR untuk anak-anak, seperti
hasil pengamatan kami di bawah ini :
Tabel
7
Tontonan
TV mengganggu belajar aku
|
Jawaban
Responden
|
Frekuensi
|
Persen
|
||
|
Laki-laki
|
Perempuan
|
Laki-
laki
|
Perempuan
|
|
|
Ya
|
28
|
35
|
82,35%
|
87,5%
|
|
Kadang-kadang
|
4
|
3
|
11,75%
|
7,5%
|
|
Tidak
|
2
|
2
|
5,9%
|
5%
|
|
Total
|
34
|
40
|
100%
|
100%
|
Sumber : Pengolah dan Data
Quesioner
Dari data tabel 7 pengamatan yang
telah kami peroleh dari questioner pada sampel anak SD 82,35% siswa SD terganggu
dengan tontonan televisi dan 87,5%
siswi juga terganggu dengan tontonan televisi. Dengan demikian dapat
disimpulkan bahwa sebagian besar dari siswa-siswi SD yang masih berkewajiban
untuk sekolah dan belajar terganggu dengan tontonan televisi apalagi film
kartun yang mereka favoritkan.
Dampak Negatif Televisi memang banya
disorot oleh berbagai pihak. Berikut di antara dampak negatif televisi menurut Strubhaar dan LaRose:
1. Kekerasan
2. Anak-anak
memiliki kesulitan membedakan anatara dunia nyata dan dunia Televisi
3. Prasangka
4. Seksisme,
Rasisme dan bentuk-bentuk lainnya
5. Prilaku
seksual
6. Penyalahguanaan
Obat-obatan
7. Keterbukaan
iklan berhubungan dengan konsumsi mereka akan produk.[15]
Nasution
mengemukakan dampak televisi terhadap anak-anak:
1. Sikap
·
Ingin mendapatka atau
mencapai sesuatu selekas mungkin (instanly). Di layar televisi gambar
berlangsung cepat. Gaya televisi memang mengharuskan kecepatan itu. Segalanya
serta seketika. Itungan yang berlaku dalam penayangan televisi adalah detik.
·
Kurang menghargai
proses. Sebagai lanjutan dari ingin cepat mencapai sesuatu, anak-anak menjadi
kurang menghargai, bahkan disana sini ingin mengabaikan- kalau bisa segala
sesuatu ada jalannya. Ada awal terhadap proses, timbul kecenderungan ingin
mendapatkan sesuatu lewat jalan pintas.
·
Kurang dapat membedakan
khayalan dan kenyataan.
2. Perilaku
·
Peniruan perbuatan
kekerasan dan negatif lainnya.
3. Pendidikan
·
Menyita waktu,
mengurangi minat dan perhatian untuk belajar.
·
Menyaingi minat untuk
membaca
4. Nilai
dan Agama
·
Mengaburkan Nilai-nilai
agama dan social dalam hal Etika kesopanan dan susila.
·
Mengorbankan semgat
keduniaan
5. Budaya
·
Mendorong kekaguman
yang berlebih kepada kebudayaan barat dan mengurangi perhatian pada identitas
Nasional[16]
Hurlock
menyebutkan sedikitnya ada 7 hal bagaimana film mempengaruhi anak yaitu,
1. Film
menyenangkan anak karena membawa mereka ke dunia manusia dan hewan yang melakukan
hal-hal yang mereka lakukan.
2. Anak
memperoleh kegembiraan yang tidak dapat diperolehnya dalam kehidupan
sehari-hari.
3. Anak
memperoleh gagasan yang dapat di pergunakan untuk bermain.
4. Film
menyediakan informasi tentang bagaimana bersikap dalam situasi sosial dan anak
menggunakan ini untuk meningkatkan penerimaan sosialnya.
5. Informasi
yang di dapat dari film mudah di ingat daripada yang mereka peroleh dari membaca buku cerita.
6. Film
menyediakan informasi tentang berbagai jenis orang yang tidak mempunyai hubungan
pribadi yang dekat dengan mereka.
7. Gambar
yang bergerak menimbulkan pengaruh emosional yang nyata pada anak. [17]
Milthon Chen,
Seorang pendidik terkemuka dari Public Broadcasting Service (PBS dan Direktur
Center for Education and Life Long Learning Dikoed San Fransisco, telah
menemukan sedikitnya 5 mitos tentang televisi dan anak-anak yaitu, :
1. Televisi
adalah medium pasif.
2. Televisi
menghambat pertumbuhan otak yang sehat. Televisi mengganggu gelombang otak
anak-anak .
3. Televisi
memperpendek rentang perhatian anak-anak.
4. Jika
menonton televisi, ia akan menjadi murid yang bodoh.
5. Jika
menonton televisi ia akan ia tidak akan menjadi pembaca yang baik.[18]
Penelitian yang dilakukan oleh
sejumlah ahli psikologi sosial pada tahun 1970- an menyimpulkan bahwa menyaksikan
tayangan kekerasan yang lama dapat menyebabkan dampak sebagai berikut :
1. Kekerasan
mengajarkan perilaku agresif.
2. Menurunkan
kemampuan mengekang perilaku agresif, berkurangnya kepekaan dan menganggap
kekerasan hal biasa.
3. Tayangan
televisi membentuk kesan tentang realitas.[19]
4.3 Apa solusi yang dilakukan oleh pendidik mengenai dampak negatif yang
ditimbulkan dari tayangan televisi ?
Pengaruh dunia pertelevisian bagi sikap dan prilaku anak di antara
berbagai media massa, televisi memainkan peran yang terbesar dalam menyajikan
informasi yang tidak layak dan terlalu dini bagi anak-anak. Menurut para pakar
masalah media dan fsikologi, di balik keunggulan yang dimilikinya, televisi
berpotensi besar dalam meninggalkan dampak negatif di tengah berbagai lapisan masyarakat,
khususnya anak-anak. Memang terdapat usaha untuk menggerakan para orang tua dan
pendidik agar mengarahkan anak-anaknya untuk menonton program atau acara yang
di khususkan untuk mereka saja, namun pada prakteknya sedikit sekali orang tua
yang memperhatikan ini.
Setiap pendidik mempunyai kewajiban untuk selalu mengawasi anak-anak
nya dan perkembangannya, oleh sebab itu hal-hal kecil harus bisa di antisipasi
oleh setiap pendidik mengenai dampak positif atau negatif yang akan ditimbulkan
oleh hal yang bersangkutan. Begitu juga mengenai hal televisi ini yang sudah
nampak dampak negatifnya , sudah
sepatutnya setiap pendidik mempersiapkan senjata untuk mengantisipasinya.
Dari begitu banyak dampak yang di akibatkan oleh tontonan televisi,
ada beberapa hal yang bisa kita lakukan oleh setiap pendidik, yaitu:
1. Pilihlah acara yang sesui
dengan usia anak
Jangan biarkan anak-anak menonton
acara yang tidak sesuai dengan usianya, walaupun ada acara yang memang untuk
anak-anak, perhatikan dan analisa apakah sesuai dengan anak-anak ( tidak ada
unsur kekerasan, atau hal lainnya yang tidak sesuai dengan usia mereka).
2.
Dampingi
dan awasi saat anak menonton TV
Bertujuan agar acara televisi yang
mereka tonton selalu terkontrol dan
orangtua bisa memperhatikan apakah acara tersebut masih layak atau tidak untuk
di tonton .
Tabel
8
Aku
selalu ditemani orangtuaku saat menonton TV
|
Jawaban
Responden
|
Frekuensi
|
Persen
|
||
|
Laki-laki
|
Perempuan
|
Laki-
laki
|
Perempuan
|
|
|
Ya
|
18
|
16
|
52,95%
|
40%
|
|
Kadang-kadang
|
7
|
15
|
20,58%
|
37,5%
|
|
Tidak
|
9
|
9
|
26,47%
|
22,5%
|
|
Total
|
34
|
40
|
100%
|
100%
|
Sumber : Pengolah dan Data
Quesioner
Setelah kami peroleh data dari
hasil Quesioner bisa kita lihat dalam tabel di atas bahwa sebagian orang tua
sebagai pendidik di rumah sebagian besar sudah menemani anaknya saat menonton
televisi sehingga orang tua dapat mengawasi acara apa saja yang di tonton oleh
anak-anaknya di rumah dan bisa menasihati anak-anaknya apabila mereka menonton
tayangan televisi yang seharusnya tidak di tonton oleh anak- anak di bawah umur
karena mempertimbangkan psikologis dan perkembangan anak tersebut.
Memberikan
penjelasan-penjelasan pada anak-anak apabila ada tayangan TV yang tidak sesuai.
Bertujuan untuk mengantisipasi pada anak-anak
hal yang salah arti dalam memahami suatu
tayangan TV.
Tabel
9
Aku
lebih suka membaca dari pada menonton TV
|
Jawaban
Responden
|
Frekuensi
|
Persen
|
||
|
Laki-laki
|
Perempuan
|
Laki-
laki
|
Perempuan
|
|
|
Ya
|
27
|
33
|
79,4%
|
82,5%
|
|
Kadang-kadang
|
6
|
5
|
17,65%
|
12,5%
|
|
Tidak
|
1
|
2
|
2,95%
|
5%
|
|
Total
|
34
|
40
|
100%
|
100%
|
Sumber : Pengolah dan Data
Quesioner
Dari tabel diatas juga di peroleh
data sebagian besar siswa-siswa SDN PASIRBADAK lebih menyukai membaca dari pada
menonton, maka dari itu pihak sekolah sebaiknya memiliki perpustakaan agar
minat membaca siswa dapat tersalurkan, di rumah juga sebaiknya orang tua
memfasilitasi anaknya agar anaknya dapat membaca baik buku pelajaran atau buku
bergambar yang mempunyai nilai edukatif dan bermanfaat. Dengan cara seperti itu
dapat meminimalisir dampak negative yang di timbulkan akibat tayangan televisi.
3.
Memberikan
pendidikan yang mengandung nilai-nilai Agama.
Nilai-nilai Agama yang harus selalu
di terapkan dan ditumbuhkan di rumah yaitu dengan cara mengikutsertakan
pendidikan keagamaan di luar jam sekolah, agar anak-anak kita mendapat bekal
nilai-nilai agama sehingga mampu berpikir jernih, punya rencana dan masa depan
yang baik. Apabila ditumbuh-kembangkan pendidikan agama kepada anak-anaknya
niscaya apapun informasi yang bersifat negatif yang datang dari luar ataupun
dari kecanggihan tekhnologi tidak akan berpengaruh bagi anak-anak karena sudah
memiliki bekal dan filter untuk menyerap atau menyaring informasi-informasi
yang sifatnya negatif.[20]
Sebagai seorang pendidik baik itu orang tua atau guru di sekolah
upaya yang dapat kita lakukan untuk mengurangi dampak tayangan televisi
terhadap anak dengan cara memberi kesibukan diantaranya belajar sambil bermain
di luar rumah atau ditaman atau di lapangan agar anak merasa nyaman dan
memberikan nilai yang positif bagi anak
itu sendiri. Dengan cara memberikan PR juga itu dapat member kesibukan anak
pada hal yang positif, seperti hasil yang telah kita peroleh dari responden
siswa SDN PASIRBADAK dibawah ini :
Tabel 10
Aku
lebih suka mengerjakan PR dari pada menonton TV
|
Jawaban
Responden
|
Frekuensi
|
Persen
|
||
|
Laki-laki
|
Perempuan
|
Laki-
laki
|
Perempuan
|
|
|
Ya
|
31
|
37
|
91%
|
92,5%
|
|
Kadang-kadang
|
2
|
-
|
6%
|
-
|
|
Tidak
|
1
|
3
|
3%
|
7,5%
|
|
Total
|
34
|
40
|
100%
|
100%
|
Sumber : Pengolah dan Data Quesioner
Dari data yang telah kami peroleh dari responden diatas
dapat di simpulkan dari tabel 10 ini ternyata anak-anak lebih cenderung
menyukai mengerjakan PR daripada menonton televisi dan hasilnya pun sangat
menakjubkan tenyata lebih dari 90% anak suka mengerjakan PR walaupun masih ada
sebagian kecil yang tidak suka mengerjakan PR. Sebaiknya kita sebagai pendidik
haruslah memberikan perhatian yang cukup untuk anak-anak kita salah satu
caranya dengan memberikan PR dan kesibukan lain disela-sela waktu belajarnya.
Tabel
11
Orangtua
aku selalu melarang menonton TV
|
Jawaban
Responden
|
Frekuensi
|
Persen
|
||
|
Laki-laki
|
Perempuan
|
Laki-
laki
|
Perempuan
|
|
|
Ya
|
17
|
21
|
50%
|
52,5%
|
|
Kadang-kadang
|
5
|
12
|
14,7%
|
30%
|
|
Tidak
|
12
|
7
|
35,3%
|
17,5%
|
|
Total
|
34
|
40
|
100%
|
100%
|
Sumber : Pengolah dan Data
Quesioner
Dari data tabel 11 diperoleh
50% sebagian dari orang tua siswa SD mereka melarang anaknya untuk menonton
tayangan televisi karena dikhawatirkan dampak negatif dari tayangan televisi
tersebut. Padahal sebaiknya lebih baik menemani dan mengawasi daripada melarang
karena apabila dilarang anak tersebut akan penasaran dan bahkan memberontak.
Sebaiknya dengan pendekatan psikologis antara anak dan orang tua.
BAB V
KESIMPULAN
5.1
Kesimpulan
Berdasarkan hasil analisis dan
Pembahasan dalam Bab sebelumnya, maka dapat ditarik beberapa kesimpulan yang
dimana Terdapat dampak positif dan negatif dari kebiasaan menonton film kartun,
yaitu, Dampak
Positifnya Seorang anak Sekolah dasar menirukan karakter dari tokoh yang di
idolakannya yang membuat daya imajinasi dari anak Sekolah dasar tersebut tinggi
dan daya fantasi anak terkontaminasi dari perilaku anak karena karakter film
kartun. Jika seorang anak mengidolakan karakter Superhero, maka menciptakan
karakter suka menolong. Dan dampak negatifnya Daya agresifitas seorang anak
sangat mudah terkontaminasi dari apa yang di tonton. ini tentunya sangat
mempengaruhi bagaimana sikap-sikap untuk memilih waktu mereka untuk belajar,
bermain diluar, menonton hal-hal yang mereka sukai saja, karena apa yang
menjadi kebiasaan akan terus mereka (anak-anak) pertahankan/perhatikan.
Sehingga menjadi lebih fokus pada siaran-siaran yang umumnya digemari
anak-anak.
Perilaku anak yang menonton film
kartun di SDN PASIRBADAK ternyata kadang-kadang
siswanya menonton film kartun. Hal ini mempengaruhi bagaimana
sikap-sikap untuk memilih waktu mereka untuk belajar, bermain diluar, menonton
hal-hal yang mereka sukai saja, karena apa yang menjadi kebiasaan akan terus
mereka (anak-anak) pertahankan/perhatikan. Sehingga menjadi lebih fokus pada
siaran-siaran yang umumnya digemari anak-anak.
1. Perlu
adanya perhatian orang tua terhadap anak, maka perlu diperhatikan hal yang
signifikan dengan perkembangan perilaku anak pada saat melihat siaran
televisi terutama film kartun dan
membimbing anak untuk melihat hal-hal yang positif yang berguna bagi perkembangan
pendidikan fisik dan mental untuk
bersikap lebih baik,.
2. Perlunya
ketegasan Pemerintah membatasi film-film kartun yang berbaur kontak fisik dan
ucapan-ucapan kasar dan mengutamakan siaran film kartun yang dapat mendidik
anak-anak di usia dini.
DAFTAR PUSTAKA
· Taylor, Shelley.
2009. “Psikologi Sosial”. Jakarta : Kencana
· Natadjaja, Listia.2009. pengaruh iklan untuk anak dibandingkan dengan film kartun televisi terhadap affektif anak (http://dgi-indonesia.com/wp-content/uploads/2009/05/dkv02040107.pdf
) Diperoleh : Sunday, January 13, 2013,
11:26:23 AM
· http://www.google.co.id/url?sa=t&rct=j&q=pengaruh+identifikasi+siswa+sd+terhadap+tokoh+kartun&source=web&cd=1&cad=rja&ved=0CCgQFjAA&url=http%3A%2F%2Frepository.unhas.ac.id%2Fbitstream%2Fhandle%2F123456789%2F1727%2FP.R.O.P.O%2C.S.A.L%2520%2520k.U.docx%3Fsequence%3D4&ei=h0nvUPHPBMKekAWL6IGgDQ&usg=AFQjCNEKvWz354HDT7OmmRpiNkrIGJbG4g&bvm=bv.1357700187,d.bmk
. Sunday, January 13, 2013, 11:26:23
AM
· Winataputra,
Udin dkk. 2007. “Materi Pembelajaran IPS SD”. Jakarta : Universitas Terbuka.
· Putra,
Syailendra.2009.“Anakku Bertingkah Seperti Sinchan”.Semarang : Pustaka
Widyamara
· Andafalthafunnisa.2012.pengaruh
dunia pertelevisian. (blogspot.com) Diperoleh kamis 10-01-2013.Pukul 22.07
[2] Winataputra, Udin dkk. Materi Pembelajaran IPS SD. Jakarta : Universitas
Terbuka. 2007. Hal.2.9-2.10
[3] Winataputra, Udin dkk. Materi Pembelajaran IPS SD. Jakarta : Universitas
Terbuka. 2007. Hal.2.10
[4] Winataputra, Udin dkk. Materi Pembelajaran IPS SD. Jakarta : Universitas
Terbuka. 2007. Hal.2.10
[5] Winataputra, Udin dkk. Materi Pembelajaran IPS SD. Jakarta : Universitas
Terbuka. 2007. Hal.2.4-2.5
[11] Desmita. “Psikologi Perkembangan”. Bandung : PT Remaja Rosdakarya.
2005. Hal. 130
[12] Desmita. “Psikologi Perkembangan”. Bandung : PT Remaja Rosdakarya.
2005. Hal. 130
[13] http://www.google.co.id/url?sa=t&rct=j&q=pengaruh+identifikasi+siswa+sd+terhadap+tokoh+kartun
Sunday, January 13, 2013, 11:26:23 AM
[14] http://www.google.co.id/url?sa=t&rct=j&q=pengaruh+identifikasi+siswa+sd+terhadap+tokoh+kartun
Sunday, January 13, 2013, 11:26:23 AM
[15]Putra Syailendra. “ Anakku Bertingkah Seperti Sinchan “ 2009. Pustaka Widyamara Jawa tengah. Hal. 3-5
[16]Putra Syailendra. “ Anakku Bertingkah Seperti Sinchan “ 2009. Pustaka Widyamara Jawa tengah. Hal. 3-4
[17] Putra Syailendra. “ Anakku Bertingkah Seperti Sinchan “ 2009. Pustaka Widyamara Jawa tengah. Hal. 5
[18]Putra Syailendra. “ Anakku Bertingkah Seperti Sinchan “ 2009. Pustaka Widyamara Jawa tengah. Hal. 83
[19]Putra Syailendra. “ Anakku Bertingkah Seperti Sinchan “ 2009. Pustaka Widyamara Jawa tengah. Hal. 85
[20] Andafalthafunnisa.blogspot.com/2012/02/pengaruh dunia
pertelevisian.kamis 10-01-2013.Pukul 22.07




